Pedagang Tahu Tempe di Cirebon Kembali Berjualan

Pedagang tahudan tempe kembali menjajakan dagangannya di Pasar Kanoman Kota Cirebon.
Pedagang tahu dan tempe kembali menjajakan dagangannya di Pasar Kanoman Kota Cirebon.

(Suara Gratia)Cirebon – Setelah melakukan aksi massal mogok berjualan, dan meluruk gedung DPRD Kota Cirebon, para pedagang tahu tempe di Kota Cirebon sepakat kembali berjualan hari ini. Meski melakukan mogok berjualan, para pedagang tahu tempe mengaku mengalami kerugian. Salah satu pedagang tempe di Pasar Kanoman Kota Cirebon Harjoyo mengatakan, selama menghentikan dagangannya ia tidak dapat pemasukan untuk menghidupi keluarganya. “Makanya mulai hari ini saya mau jualan lagi. Kalau terus berhenti berjualan, anak istri saya makan apa”.

Salah satu perajin tempe di Pasar Harjamukti Kota Cirebon Kasda’i mengungkapkan hal yang sama. Namun, aksi mogok yang dilakukannya bagaimanapun juga sebagai bentuk solidaritas dan agar aspirasinya didengar oleh pemerintah dan menyadari keadaan mereka. Ia menjelaskan, beberapa waktu terakhir sebelum mogok masal harga kedelai impor mencapai kisaran Rp 10.000 per kg dari sebelumnya Rp 7.700 per kg. Akibatnya, tahu tempe yang dijual di pasaran pun dinaikkan menjadi rata-rata Rp 5.000 dari sebelumnya Rp 4.000. “Sejak harga tempe mulai naik, banyak konsumen yang mengeluh”.

Perajin tempe lainnya di Pasar Drajat Kota Cirebon, Abdul Wahid mengatakan, setelah aksi mogok masal harga kedelai kini telah mengalami penurunan di kisaran Rp 9.400 per kg hingga Rp 9.500 per kg. Menurut dia, kebutuhan kedelai di Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon sekitar 32 ton per hari. Meski merugikan, para perajin dan pedagang tempe tetap melanjutkan aksi mogok di hari terakhirnya, kemarin. Mereka kembali menyisir sejumlah pasar di Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon, memeriksa satu per satu lapak di pasar untuk memastikan tidak ada yang berjualan tahu tempe. Aksi dimulai sekitar pukul 06.00 WIB dengan mendatangi Pasar Perumnas, Kota Cirebon, dan berlanjut ke Pasar Kanoman,  Harjamukti, Sumber Kabupaten Cirebon, Plered Kabupaten Cirebon, dan berakhir di Pasar Kramat Kota Cirebon. Mereka selanjutnya mendatangi gedung DPRD Kota Cirebon untuk menyampaikan aspirasinya. Dalam kesempatan itu, para pedagang pun berharap dibentuknya koperasi karena selama ini mereka membeli kedelai dari toko.

Sementara, Ketua DPRD Kota Cirebon, Yuliarso meminta para pedagang berjualan kembali. “Kalau harga kedelai masih mahal, silakan harganya dinaikkan atau ukuran tahu tempenya diperkecil. Solusi sementara itu saja dulu”. Pihaknya sendiri berjanji akan menindaklanjuti pembentukan koperasi. Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kota Cirebon, Eddy Tohidi dalam kesempatan itu menyatakan akan berkoordinasi dengan Bulog terkait mahalnya harga kedelai. “Kalaupun tidak ada Operasi Pasar, pemerintah pusat bisa memberikan subsidi untuk kedelai. Subsidi ini pernah dilakukan tahun lalu atas kedelai dengan besaran Rp 2.000 per kg”.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s