Peringati Hari Tani Nasional, Mahasiswa Beri Syok Terapi Kepada Pemerintah

aksi refleksi ratusan mahasiswa dalam memperingati Hari Tani Nasional.
Aksi refleksi ratusan mahasiswa dalam memperingati Hari Tani Nasional.

(Suara Gratia)Cirebon – Hari Tani Nasional yang jatuh pada hari ini 24 September, ratusan mahasiswa dari Solidaritas Mahasiswa Pertanian Cirebon, menggelar refleksi. Aksi damai turun ke jalan dilakukan dengan berorasi di depan Kampus Universitas Swadaya Gunungjati (Unswagati) Kota Cirebon, dilanjutkan berjalan kaki menuju kantor RRI Cirebon di Jalan Brigjend. Dharsono (By Pass). Refleksi ini sebagai syok terapi bagi pemerintah, karena luas lahan pertanian di wilayah Cirebon semakin hari semakin menyusut, pasalnya banyak lahan produktif yang berubah fungsi menjadi perumahan dan sejumlah lahan bisnis, yang dilakukan oleh oknum tertentu. Semakin menyempitnya lahan produktif yang menjadi penopang sebagian besar perekonomian warga Cirebon yang bermata pencaharian sebagai petani, akan membawa dampak buruk bagi kelangsungan hidup para petani. Sehingga, demi menyambung hidup pelan tapi pasti, mereka akan beralih profesi karena mereka kehilangan sumber mata pencaharian.

Ketua Umum Solidaritas Mahasiswa Pertanian Unswagati Cirebon, Willy Dwi Aditya menyatakan, dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional dia dan kawan-kwannya memberikan terapi khusus kepada pemerintah agar amanat konstitusi kebijakan politik di Indonesia seperti dalam Undang Undang 1945 Pasal 33 Ayat 3, berjalan dengan baik dan petani tidak kehilangan hak-haknya sebagai warga negara. “Namun, yang terjadi adalah dimana tragedi kemanusiaan akibat konflik agraria/sengketa tanah terus terjadi dan tetap rakyat petani lemah yang menjadi korbannya”. Ia menuding pemerintah telah memeras dan merampas Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia habis-habisan. Yakni, dengan alih fungsi lahan pertanian untuk Pemilikan tanah bersekala besar, Pembangunan Infrastruktur, Perumahan Elite, Hutan Tanaman Industri dan pabrik-pabrik besar terus merampas kekayaan alam, budaya, dan ekonomi petani serta rakyat desa, hingga mempengaruhi ketenagakerjaan pemuada desa. “Teramat banyak ancaman dan tantangan kehidupan petani Indonesia saat ini dan mereka terus tertindas”.

Aktivis lainnya Andri menyatakan, melalui refleksi ini menuntut kepada pemerintah melakukan kembali program land reform, pemerintah harus menyelesaikan kasus sengketa-sengketa tanah dengan tidak mengkriminalisasi petani, pemantapan optimalisasi dan peningkatan kualita SDM petani. “Kami bersama ratusan kawan-kawan di sini menuntut pemerintah bersikap tegas terhadap kasus-kasus agraria yang menindas kelangsungan hidup petani. Di Cirebon sendiri, sudah banyak lahan pertanian berubah fungsi menjadi perumahan, perkantoran, dan lahan bisnis lainnya, yang ujung-ujungnya merampas hak mereka untuk mendapatkan kehidupan yang layak”. (Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s