Pengembang Bongkar Ruko Bermasalah

Dua Ruko di Jl. Terusan Ciremai, Kelurahan Kecapi, Kecamatan Harjamukti kota Cirebon, yang dieksekusi oleh pengembang.
Dua Ruko di Jl. Terusan Ciremai, Kelurahan Kecapi, Kecamatan Harjamukti kota Cirebon, yang dieksekusi oleh pengembang.

(Suara Gratia)Cirebon – Tidak lebih dari satu jam usai pembongkaran yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri Cirebon terhadap dua kios yang berada di Jl Terusan Ciremai, Kelurahan Kecapi, Kecamatan Harjamukti kota Cirebon, pihak pengembang kembali menutup akses jalan menuju rumah penggugat Ratna Asih Oktoviani, dengan menggunakan pagar bambu di lokasi pembongkaran dua kios tersebut.

Eddy Ramli, salah satu pimpinan dari PT Budi Sari Murni Aji, salah satu pengembang yang mendirikan kios tersebut mengatakan, Proses hukum terhadap pihaknya dianggap sudah selesai, hal ini dibuktikan dengan penanda tanganan berita acara eksekusi yang telah dilakukan.

“Yang jadi pertanyaan, bagaimana setatus tanahnya?, siapapun akan mengatakan, hak perdatanya masih utuh, masih dipegang oleh kami, dan hal itu juga sudah kami konfirmasi kepada pihak pengadilan,” ungkapnya.

Eddy juga mengatakan, tanah tersebut sudah dipastikan ada penggunaan tanah diatasnya, apakah itu rumah atau bangunan lainnya, sementara Hak guna banguna (HBG) diatas tanah tersebut masih dimiliki oleh pihak perusahaan, dan penggunaan tanah tersebut untuk kios, hal itu ditunjukan oleh Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) yang kami miliki. “Kalau mau mengubah penggunaan tanah, tentunya harus ada proses, salah satunya adalah membatalkan IMB nya, hal itu yang seharunya dilakuan, kalau sekarang mereka menggunakan tanah tersebut untuk jalan, ini dinamakan tanah sengketa,” katanya. Eddy menjelaskan, untuk tanah yang dilakukan penutupan terhadap pihaknya  dianggap sengketa, karena fungsi yang ada sekarang ini diperuntukan untuk bangunan akan tetapi ada fungsi lain sebagai jalan atau penggunaannya.

Sementara kuasa hukum dari Ratna Asih Oktoviani, Johnson Doloksaribu mengatakan, pihaknya merasa kaget dikala mendengar informasi, kalau kios yang dibongkar oleh pihak pengadilan, tidak lama dilakukan pemasangan pagar bambu oleh pihak pengembang. “Padahal, menurut putusan mahkamah agung dalam putusannya menerangkan, menghukum tergugat dengan membongkar bangunan kios tersebut, karena, menghalani akses dari dan akan menuju rumah penggugat,” bebernya.

Selain itu ia mengatakan, adanya pemagaran yang dilakukan oleh pihak tergugat, masih menggangu hak kenikmatan dan kenyamananan penggugat. “Sedianya kami, pagi ini akan melakukan pembersihan dari bekas-bekas bangunan, dan akan secepatnya tanah tersebut dipergunakan untuk akses jalan menuju rumah, yang mana rumah tersebut akan kami pergunakan sebagai gudang penyimpanan oli, sebagai bentuk usaha dari klayen kami,” katanya.

Johnson mejelaskan, dengan kejadian ini pihaknya sudah melakukan konsultasi dengan ketua pengadilan Negeri Cirebon, yang mana ketua pengadilan menyarankan agar kasus ini dibawa kepada pihak kepolisian karena sudah memasuki ranah kriminal. “Kalau ada tindakan seperti ini yang kami duga dari pihak perusahaan pengembang, maka ketua pengadilan menyarankan agar dilaporkan kepada pihak kepolisian,” tambahnya. Pihaknya dalam waktu dekat ini akan segera membuat laporan terkait pemagaran yang diduga dilakukan oleh pihak pengembang dari kios tersbut. (Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s