Jelang Royal Wedding, Putera Mahkota Keraton Kasepuhan Jalani Prosesi Siraman

Melalui prosesi Siraman, Sultan Sepuh ke-XIV PRA Arief Natadiningrat, memberikan doa kepada calon pengantin.
Melalui prosesi Siraman, Sultan Sepuh ke-XIV PRA Arief Natadiningrat, memanjatkan doa restu kepada calon pengantin.

(Suara Gratia)Cirebon – Putera Mahkota Keraton Kasepuhan Cirebon Pangeran Raja (PR) Luqman Zulkaedin yang akan melangsungkan aqad nikah besok (Senin, 11/11) dengan Ratih Marlina. Hari ini (Minggu, 10/11), tengah menjalani salah satu rangkaian prosesi pernikahan khas Keraton yakni Siraman, di halaman wetan Keraton Kasepuhan Cirebon. Satu persatu, dari orang tua pihak laki-laki (Sultan Sepuh ke-XIV PRA Arief Natadiningrat (Bapak) dan  (Ibu) R.A. Isye Natadiningrat), dilanjutkan keluarga Keraton lainnya, memanjatkan doa melalui air yang disiramkan ke tubuh calon pengantin laki-laki.

Prosesi siraman sendiri, merupakan tradisi memandikan calon pengantin dengan tata tradisi tertentu sebelum pelaksanaan aqad nikah, yang bertujuan untuk membersihkan jiwa dan raga calon Pengantin yang merupakan pintu menuju hidup baru dengan pasangannya. Selain itu, sebelum siraman calon pengantin diluluri dengan Blonyo atau boreh, yang bertujuan untuk membersihkan badan sehingga menjadi insan yang bersih baik jasmani maupun rohani (Pada saat melaksanakan prosesi sakral aqad nikah)

Blonyo adalah suatu bahasa tanpa kata, melalui blonyo atau dilulur kunyit, dengan sendirinya calon pengantin tidak dapat bepergian, dengan tujuan untuk tirakat (Tidak dapat bepergian) agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Setelah siraman, calon pengantin laki-laki dan keluarga melakukan ziarah ke makam leluhur (Cungkup Raja Sulaeman dan Cungkup Sultan Sepuh ke-XIII) untuk mohon restu, di komplek Astana Gunung Sembung.

Ditemui usai melakukan prosesi siraman, Sultan Sepuh ke-XIV PRA Arief Natadiningrat mengatakan, siraman ini merupakan prosesi untuk membersihkan diri sesuai ajaran Islam bahwa amal perbuatan harus didahului dengan membersihkan diri dari hadats, baik kecil maupun besar. “Siraman ini airnya berasal dari air tujuh sumur dan air zam-zam, kembangnya warna pitu dan yang menyiraminya 9 orang,” terangnya. Sultan mejelaskan, pernikahan merupakan suatu siklus hidup yang dijalani setiap manusia, dirinya juga berharap pernikahan ini berjalan lancar, diberikan keberkahan, kemudahan dan menjalani bahtera rumah tangga dengan baik.

Pihak keluarga memilih lokasi aqad nikah di Masjid Agung Sang Cipta Rasa dengan alasan untuk mempertahankan tradisi Keraton yang sudah turun temurun sekaligus memperkenalkan budaya Keraton kepada kedua mempelai. “Supaya sakral,” jelasnya singkat. Setelah melangsungkan pernikahan, PR Luqman Zulkaedin dan istri sementara tinggal di dalam Keraton untuk mempelajari budaya dan tradisi Keraton.(frans C. Mokalu)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s