Kabupaten Cirebon Endemis DBD dan Chikungunya

Ilustrasi.
Ilustrasi.

(Suara Gratia)Cirebon – Wabah Chikungunya mewabah di sejumlah daerah di Kabupaten Cirebon, setidaknya sejauh ini diketahui dua kelurahan/desa di kecamatan berbeda yang warganya telah terserang wabah ini. Di Kelurahan Pasalakan Kecamatan setidaknya ada 37 orang yang terserang wabah ini sementara di Desa Suranenggala Kulon, Kecamatan Suranenggala, belasan orang yang telah terkena. Kemarin, pihak Desa Pasalakan melakukan fogging atau pengasapan di lingkungan sekitar, baik di dalam rumah penduduk maupun halamannya.

Chikungunya sendiri merupakan penyakit sejenis demam virus, disebabkan alphavirus yang disebarkan gigitan nyamuk dari spesies Aedes Aegypti. Penyakit ini memiliki gejala di antaranya demam mendadak hingga 39 derajat celcius, nyeri pada persendian terutama sendi lutut, pergelangan jari kaki, tangan, serta tulang belakang yang disertai ruam atau kumpulan bintik merah pada kulit.

Akibat serangan nyamuk ini, warga terpaksa tak beraktivitas beberapa lama akibat linu pada persendiannya. Salah seorang warga, Della (13 tahun) mengaku terpaksa berbaring di atas tempat tidur karena merasa lemas. “Sebelumnya nggak kerasa apa-apa, tapi pas pulang sekolah badan terasa lemas dan badan panas. Ada bintik-bintik juga di badan,” ungkapnya.

Semula dia tak mengetahui jenis sakit yang dideritanya, namun setelah pemeriksaan di puskesmas barulah diketahui dia terkena chikungunya. Menurut sang ibu, Sarimi, selain anaknya ada pula warga lain yang terkena wabah serupa. “Ini sudah beberapa hari banyak warga yang kena, beberapa dari mereka lapor ketua RT,” ujarnya.

Menurutnya, rata-rata warga yang terkena wabah ini tinggal berdekatan. Oleh karena itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon melakukan pengasapan di sekitar rumah penduduk. Kepala Seksi Diptram Kelurahan Pasalakan Edi Darmawan menyebut, minggu lalu jumlah warga yang terserang chikungunya sekitar 25 orang. “Semakin hari jumlahnya bertambah, dan sekarang hampir 40 orang. Supaya tak meluas, kami lakukan fogging,” terangnya.

Sementara, Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Dinkes Kabupaten Cirebon Nanang Ruhyana menyebutkan, Kabupaten Cirebon masuk endemis demam berdarah dengue (DBD). Mengingat penyebaran chikungunya disebabkan nyamuk Aedes Aegypti, maka daerah ini pun endemis chikungunya. “Penyakit ini terutama rentan saat pergantian musim, baik dari hujan ke kemarau maupun kemarau ke hujan. Sama seperti DBD, bedanya DBD mematikan sedangkan chikungunya tidak,” jelasnya.

Warga di sekitar pesisir pantai terutama rentan dengan penyakit ini, mengingat di kawasan tersebut kebersihan masih belum terjaga baik. Saat ini, selain 37 warga di Kelurahan Pasalakan, dia menyebutkan tercatat pula 17 warga lainnya di Desa Suranenggala Kulon, Kecamatan Suranenggala yang terkena wabah chikungunya.

Sejauh ini, pihaknya sendiri melakukan fogging sebagai upaya penanggulangan. Menurutnya, sudah sepuluh lokasi yang diasapi sesuai permintaan pihak desa atau puskesmas masing-masing. Ia mengatakan, tak ada cara lain menghindari penyakit ini selain melakukan pedoman 3M yakni menguras, menutup, dan mengubur.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s