Tolak Konfrensi WTO, Mahasiswa Cirebon Blokir Jalur Pantura

Mahasiswa blokir jalur Pantura Cirebon, tolak Konfrensi WTO di Bali
Mahasiswa blokir jalur Pantura Cirebon, tolak Konfrensi WTO di Bali

(Suara Gratia)Cirebon – Konfrensi ke-9 World Trade Organization (WTO) yang akan dilaksanakan di Nusa Dua Kabupaten Badung Bali, 3-6 Desember 2013 mendatang, dan diikuti lebih dari 10 ribu peserta dari delegasi berbagai negara di dunia, mendapat penolakan keras dari mahasiswa Cirebon. Dalam aksi menolak pertemuan kelas dunia tersebut, mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Indonesia (GMNI) Cirebon, turun ke jalan, dari Jalan Perjuangan menuju perempatan Pemuda Jalan Brigjend. Dharsono (By Pass). Disitu, mereka membakar ban bekas dan memblokir jalan yang menjadi jalur utama Pantai Utara (Pantura) Jakarta – Jawa Tengah – Jawa Timur. Aksi unjuk rasa ini, memaksa kepolisian mengalihkan arus lalu lintas ke Jalan Pemuda.

Dalam aksinya mereka menuntut kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan untuk tidak menandatangai perjanjian apapun dalam forum WTO ke-9 tersebut, dan meminta pertanggungjawabannya kepada publik tentang kesepakatan-kesepakatan yang pernah dibuat dalam WTO sebelumnya.

Koordinator Lapangan GMNI Yaya Nurdiyansah menyatakan, Indonesia adalah negara dengan wilayah yang luas dan sumber daya alam yang melimpah, seyogyanya Indonesia menjadi bangsa yang hebat dan mampu mensejahterakan rakyatnya. “Pemerintah menguasai sepenuhnya kekayaan yang sebesar-besarnya dapat digunakan untuk kemakmuran rakyat,” bebernya. Namun, realitasnya saat ini Indonesia semakin lemah dalam hal politik, budaya, dan ekonomi. Semakin parah lagi, sejak Indonesia meratifikasi perjanjian multilateral WTO pada tahun 1994 lalu dan bergabung secara resmi tahun 1995.

Menurutnya, hal ini berdampak pada terpuruknya sektor perdagangan barang dan jasa dalam negeri, karena Indonesia wajib melegislasi kaidah hukum yang termuat dalam perjanjian-perjanjian WTO, yang jelas bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila sebagai landasan hidup bangsa Indonesia.

Yaya melanjutkan, perjanjian-perjanjian yang diadakan memaksa Indonesia untuk melegalkan sistem perdagangan bebas. Sisitem ini, menghilangkan sepenuhnya peran negara dalam kepemilikan kekayaan alam dalam negeri yang sudah sepatutnya digunakan untuk mensejahterakan rakyat, sehingga sumber daya alam bangsa ini akan dikeruk habis-habisan oleh negara maju yag berimplikasi buruk secara sistemik di semua sektor.

Lebih lanjut Yaya menambahkan, setiap perjanjian-perjanjian dalam WTO hanya akan menciptakan ketergantungan bagi negara berkembang terhadap negara maju. “Sungguh tidak masuk akal, negara yang kaya raya ini harus bergantung pada negara maju yang miskin sumber daya alam. Ir. Soekarno menyatakan bahwa, kita ini bangsa besar bukan bangsa tempe yang takut melawan imperialisme dan kolonialisme,” ujarnya.(Frans C. Mokalu)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s