Kematian Mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Pihak Kampus Tempuh Jalur Kekeluargaan

Pembantu Rektor III IAIN Syekh Nurjati Cirebon Cecep Suamarna (kiri) bersama anggota Mahapeka saat menggelar jumpa pers kemarin (Senin 3/2).
Pembantu Rektor III IAIN Syekh Nurjati Cirebon Cecep Sumarna (kiri) bersama anggota Mahapeka saat menggelar jumpa pers kemarin (Senin 3/2).

(Suara Gratia)Cirebon – Seorang mahasiswa Semester III Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon, Abdul Qodir Jaelani (20 tahun) diduga menjadi korban kekerasan senior hingga tewas. Pihak keluarga bersikeras melaporkannya kepada aparat berwajib, sedangkan pihak kampus menawarkan jalan kekeluargaan sebagai penyelesaiannya.

Dia diduga mendapat pelatihan sangat keras selama 13 hari saat mengikuti pendidikan pelatihan dasar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pecinta Kelestarian Alam (Mahapeka). Dugaan tersebut muncul karena, belakangan ditemukan adanya kejanggalan dalam kematian mahasiswa asal Desa Lungbenda RT 03/01, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon tersebut.

Kejanggalan itu berawal ketika korban dibawa ke rumah sakit. Berdasarkan informasi, korban sempat masuk dua rumah sakit berbeda sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia, masing-masing ICU RS Djuanda Kabupaten Kuningan dan RS Sumber Waras Kabupaten Cirebon.

Paman korban Hariri (30 tahun) saat masuk ICU RS Djuanda, korban mengalami memar pada pelipis mata, dada, perut, serta luka pada kaki. Korban juga diketahui pihak keluarga mengalami muntah darah.

“Korban masuk rumah sakit pada 25 Januari sekitar pukul 11.00 WIB. Tapi kami baru diberitahu pihak kampus melalui seniornya sekitar pukul 21.00, rentang waktunya terlalu lama,” tuturnya.

Beruntung, salah satu perawat di RS Djuanda merupakan tetangga korban yang kemudian memberitahukannya kepada pihak keluarga sebelum pihak kampus. Dari RS Djuanda, pihak keluarga selanjutnya merujuk korban ke RSUD Gunung Jati Kota Cirebon dan RS Sumber Waras Kabupaten Cirebon.

Kondisi korban sempat membaik setelah mendapat perawatan di ICU RS Sumber Waras selama tiga hari. Namun setelah dirawat sekitar tujuh hari di ruang perawatan biasa, korban kembali mengalami pendarahan hingga kemudian dinyatakan meninggal dunia, Sabtu 1 Pebruari 204 lalu, sekitar pukul 22.30,.

Pihak keluarga mencurigai kematian korban karena dinilai janggal mengingat korban tak memiliki riwayat penyakit. Apalagi menurut keterangan salah satu dokter di RS Djuanda, luka-luka dalam di tubuh korban disebabkan benda tumpul.

“Saya pernah mencoba bertanya kepada korban mengenai kondisinya sebelum dibawa ke rumah sakit, tapi dia terkesan ketakutan. Apalagi di sekitarnya selalu ada senior yang mendampingi, makanya kami jadi bertanya-tanya,” tandasnya.

Sementara itu, Senin 3 Pebruari 2014 lalu diketahui pihak kampus menemui keluarga korban di kediamannya. Menurut ibu korban, Indun, pihak kampus berjanji akan menanggung semua biaya tahlilan hingga .1000 hari kematian korban. “Rektornya juga janji akan menggratiskan biaya kuliah adik kedua Jaelani jika masuk IAIN hingga lulus,” jelasnya.

Tawaran itu pun diterima pihak keluarga. Namun, mereka rupanya akan tetap meneruskan kasus tersebut ke ranah hukum. Apalagi, kasus itu telah dilaporkan ke Polsek Palimanan sebagai bahan pertimbangan agar kejadian serupa tak terulang di masa depan.

Berita sebelumnya, pihak IAIN melalui Pembantu Rektor III Cecep Sumarna kemarin (Senin 3/2) menggelar jumpa pers terkait kasus ini. Cecep mengaku, telah dibentuk tim investigasi internal untuk mengetahui kebenaran di balik tewasnya Abdul.

“Untuk kegiatan kemahasiswaan, kami sudah tegaskan tak ada izin untuk segala tindak kekerasan. Kami jamin, kalau ada kekerasan sanksi akademis berupa dikeluarkan dari kampus akan kami jatuhkan bagi mahasiswa yang melakukannya,” tegasnya.

Dia tak menampik, kegiatan Mahapeka memang menggunakan ukuran fisik. Namun selama sekitar 23 tahun berdiri, kasus ini merupakan yang pertama kali. Dia pun menyatakan, saat kejadian senior-senior Mahapeka telah melakukan tindakan pertolongan pertama terhadap korban, dan sejauh ini Jaelani diindikasi meninggal akibat sakit.

Salah satu mahasiswa yang tergabung dalam Mahapeka dan merupakan pemateri kegiatan, Saepudin dalam kesempatan itu meyakinkan, tidak ada metode kekerasan dalam pelatihan yang mereka gelar selama tiga pekan itu.

“Saat kejadian, kami sedang senam pagi. Korban kemudian mengeluh sakit dan terduduk sampai muntah darah, kami langsung bawa ke RS Djuanda,” jelasnya.

Dia menyebutkan, kemungkinan korban terkena dahan atau ranting, mengingat sehari sebelum kejadian mereka melakukan latihan bertahan hidup (survival). Karena itu, analisa dokter mengenai penyebab kematian korban menurutnya, hanya menunjukkan ketidaktahuan kondisi mereka di lapangan.

Namun dia memastikan korban dalam kondisi sehat sebelum mengikuti pelatihan. Mengenai keterlambatan informasi dari pihak panitia kepada pihak keluarga, dia mengatakan hal itu tak lebih dari persoalan teknis.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s