Erupsi Gunung Kelud, Pasokan Sapi ke Cirebon Terganggu

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan Peternakan dan Kehutanan Kabupaten Cirebon Ali Efendi.
Kepala Dinas Pertanian Perkebunan Peternakan dan Kehutanan Kabupaten Cirebon Ali Efendi.

(Suara Gratia)Cirebon – Erupsi Gunung Kelud di Kediri Jawa Timur pada 13 Pebruari 2014 lalu, tidak hanya mengakibatkan kerusakan sejumlah tempat di beberapa daerah di Pulau Jawa. Abu vulkanik dan hujan pasir yang dimuntahkan Gunung Kelud, berimbas pada lumpuhnya sejumlah moda transportasi darat dan udara. Hal ini menyebabkan, pasokan komoditas pangan termasuk daging sapi ke beberapa daerah khususnya Cirebon menjadi terganggu dan mengalami keterlambatan.

Menurut Kepala Dinas Pertanian Perkebunan Peternakan dan Kehutanan (Distanbunakhut) Kabupaten Cirebon Ali Efendi, sejak erupsi Gunung Kelud terjadi, pasokan sapi dari Jawa Tengah dan Jawa Timur mengalami penurunan dan keterlambatan, sehingga harga daging sapi di pasaran ikut meningkat dari Rp 80 ribu per kilogram menjadi Rp 100 per kilogram. “Sebelum letusan Gunung Kelud, pasokan sapi di Cirebon tidak masalah,” terangnya ditemui di sela-sela Sosialisasi Undang Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, di Hotel Aston Cirebon, kemarin (Kamis 20/02).

Dirinya memperkirakan, letusan Gunung Kelud menyebabkan banyak populasi sapi yang mati di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Ali menjelaskan, di Cirebon hanya mampu memenuhi 1.800 populasi dalam satu bulan sementara kebutuhan ideal untuk Cirebon mencapai 50.000 populasi. Tingginya kebutuhan daging sapi di Cirebon, menurutnya, karena daerah ini banyak pedagang yang menjual penganan berbahan dasar daging sapi, seperti empal gentong dan lainnya. “Kita masih mengambil dari daerah lain. Karena kebutuhan daging sapi di Cirebon tergolong tinggi,” terangnya.

Untuk memenuhi kebutuhan daging sapi di Cirebon, pihaknya akan meningkatkan populasi dengan memfasilitasi kredit murah kepada petani, dan mencari pasokan dari daerah lain selain Jawa Tengah dan Jawa Timur. “Kedepan kita akan coba mendatangkan sapi dari Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, karena disana populasi sapinya lumayan banyak. Sapi-sapi tersebut, akan dikirim langsung melalui Pelabuhan Muarajati Cirebon,” tandasnya.

Jika pasokan sapi dari NTB dan NTT sudah berjalan, maka Cirebon juga akan menjadi salah satu daerah pemasok sapi ke sejumlah tempat, seperti Jakarta dan lainnya. “Karena dari tempat lain juga ada yang minta dari Cirebon. Permintaan dari Jakarta saja mencapai 100 ekor sapi per hari, sedangkan kita hanya bisa memenuhi sebanyak 15 ekor,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya akan menggandeng salah satu pengusaha Cirebon untuk budidaya sapi, yang diawali dengan impor sebanyak 30 ribu ekor sapi per tahun dari Australia. Ia berharap, dengan adanya peternakan sapi tersebut, dapat memenuhi kebutuhan daging sapi di Cirebon dan daerah lainnya. “Kalau tidak melakukan percepatan baru 20 tahun kebutuhan sapi di Cirebon terpenuhi,” tutupnya.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s