Petambak Korban Banjir Dapat Bantuan Rp 31,1 miliar

Menteri Kelautan dan Prikanan Sharif C. Sutardjo (kempat dari kiri) melepaskan bibit ikan dan udang di Desa Bendungan Kabupaten Cirebon.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C. Sutardjo (kempat dari kiri) melepaskan bibit ikan dan udang di Desa Bendungan Kabupaten Cirebon.

(Suara Gratia)Cirebon – Bencana banjir yang melanda Pantai Utara Jawa (Pantura), merusak kawasan budidaya perikanan seluas 68.337 hektar, yang tersebar di empat Provinsi. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggandeng Tahir Foundation mengaktifkan kembali tambak udang Pantura Jawa dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp 31,1 miliar.

“Bantuan ini akan digunakan untuk penyediaan sarana produksi dan rehabilitasi saluran tambak di Pantura Jawa,” ungkap Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C. Sutardjo, pada acara penyerahan bantuan kepada pembudidaya ikan korban banjir di Desa Bendungan Kecamatan Pangenan Kabupaten Cirebon Jawa Barat, Senin (24/2).

Menurut Sharif, alokasi bantuan sebesar Rp 31,1 miliar tersebut bersumber dari KKP sebesar Rp 11,1 miliar, serta Bank Mayapada sebesar Rp 20 miliar. Bantuan Bank Mayapada ini merupakan hibah Tahir Foundation yang akan dilakukan bertahap selama 5 tahun, dengan nilai per tahunnya sebesar Rp 20 miliar. Sementara, total perkiraan kebutuhan anggaran untuk pemulihan tambak pasca bencana banjir sebesar Rp 180 miliar. Untuk menutupi kekurangan tersebut, KKP sedang mengajukan usaha anggaran tambahan kepada Kementerian Keuangan.

“Tentu saja dengan dukungan dan persetujuan DPR. Mudah-mudahan usulan ini dapat segera terealisasi,” ujarnya.

Ia melanjutkan, kawasan tambak di Provinsi Jawa Barat merupakan kawasan yang terparah terkena banjir, dengan kerusakan seluas 49.843 hektar, sedangkan kawasan tambak di Jawa Tengah yang rusak mencapai 15.143 hektar, Banten 611 hektar, dan Jawa Timur 2.377 hektar. Kerusakan ini diperkirakan akan mengganggu produksi perikanan nasional, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun ekspor.

“Musibah banjir yang merusak kawasan tambak, tidak saja akan berdampak pada terhentinya kegiatan ekonomi dan berkurangnya pendapatan masyarakat pembudidaya untuk beberapa saat, tapi juga berdampak pada produksi ikan nasional,” tuturnya.

Kerusakan terbesar yang dialami petambak dikarenakan rusaknya infrastruktur tambak. Termasuk saluran irigasi, konstruksi tambak maupun jalan produksi di sentra produksi, serta gagal panen akibat hanyutnya benih ikan, udang dari tambak maupun kolam. Selain infrastruktur tambak, KKP juga memberikan paket bantuan sarana produksi yaitu benih udang dan ikan.

“Saya berharap paket bantuan sarana produksi yaitu benih ikan dan udang nin jangan dilihat dari besar kecilnya nilai rupiah, tetapi lebih daripada itu adalah nilai sosialnya,” tutupnya.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s