Keraton Kanoman Doakan Keselamatan Umat Manusia Melalui “Buwana Meneng”

Pagelaran seni budaya dan doa "Buwana Meneng" di Keraton Kanoman Cirebon.
Pagelaran seni budaya dan doa “Buwana Meneng” di Keraton Kanoman Cirebon.

(SuaraGratia)Cirebon – Keraton Kanoman Cirebon, mendoakan umat manusia di seluruh dunia agar terhindar dari marabahaya melalui pagelaran seni budaya bertajuk “Buwana Meneng”. Buwana Meneng adalah ide sebuah kesatuan warna di atas panggung dengan penggarapan yang tegas dan tersistematis, menggambarkan cirebon yang kaya akan budaya dan warisan religius, yang disuguhkan dalam bentuk repertoar Seni pertunjukan sebagai rangkaian ‘doa bersama’.

Buwana Meneng, dikemas dalam “Opera Seremoni” peleburan air dari sumber mata air utama di Cirebon. Pagelaran ini menampilkan sejumlah seni dan budya Cirebon seperti, seperti seni tari, Musik dan instalasi, hingga identitas kebangsaan dan lainnya.

Sultan Kanoman XII, Gusti Sultan Raja Mohammad Emiruddin mengatakan, doa menjadi penghantar memasuki kemanusiaan kita dengan segala bentuk atribut dan profesi. Doa kemudian menjadi ruang konsolidasi mempertemukan berbagai hal. Momentumnya, tentu meniti pencerahan dan limpahan anugerah sebagai makhluk. “Buwana Meneng, merupakan seremoni ‘Doa untuk keselamatan Umat Sedunia’ Sehingga masa depan kita, dipenuhi dengan spiritualitas prasangka yang baik,” tuturnya, disela-sela Pagelaran Buwana Meneng Senin 3 Mei 2014, malam di pelataran Keraton Kanoman Cirebon.

Sultan Kanoman menjelaskan, acara ini juga melibatkan kolaborasi penampilan Charly Van Houten, Dance Teatrikal, Teater Poetrycal, Tarian Api, Rampak Topeng Kelana, Ayah Oong, Regina, Cheppy Irawan Oi dan Arya 86.

Menurutnya, opera seremoni Buwana Meneng merupakan sebuah pertunjukan kolaborasi antara seni suara, musik, teater, seni tradisional cirebon serta lakon gerak dan tari yang menggambarkan kejadian-kejadian dan lakulampah alam dan manusia. Semuanya tersaji dalam sebuah opera yang disajikan oleh para seniman dari berbagai unsur seni yang ada, seni tradisi, seni modern dan multidimensi.

“Seremoni doa yang dipanjatkan adalah permohonan kepada Tuhan. Agar bumi tak lagi bergejolak, berhenti marah atas perilaku manusia, meneng (diam), yang tersaji dalam “opera seremoni buwana meneng’’, terangnya.

Sementara salah satu pengisi acara sekaligus penggagas pagelaran tersebut Charly Van Houten menyatakan, melalui pagelaran opera seremoni ini seluruh unsur ciptaan Tuhan diajak berdoa untuk keselamatan umat manusia di seluruh dunia.

Charly menambahkan, selain pagelaran juga dilaksanakan Kirab Larung, yaitu kirab prajurit keraton kanoman bersama masyarakat melakukan pelarungan air tujuh sumur dari tiga penjuru yang telah tercampur dalam sebuah doa. “Mengambil hikmah kesantunan air dalam kehidupan, untuk disatukan, didoakan, lalu air yang diambil dari sumur pitu Kraton ini akan dilarung ke laut lepas sebagai simbol penyebaran doa, dan air kembali menjadi sumber kehidupan,” tutupnya.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s