Puluhan Kesenian Khas Cirebon Nyaris Punah

Sultan Sepuh ke-XIV PRA Arief Natadiningrat menandatangani MoU Kepala Perpustakaan Nasional RI Sri Sularsih
Sultan Sepuh ke-XIV PRA Arief Natadiningrat (kanan) setelah penandatanganan MoU dengan Kepala Perpustakaan Nasional RI Sri Sularsih (kiri) di Jakarta.

(Suara Gratia)Cirebon – Sedikitnya 28 dari 40 kesenian khas Cirebon nyaris punah. Dua lainnya bahkan dinyatakan telah punah, sedangkan sisanya dinyatakan masih berkembang hingga kini.

Ke-28 kesenian khas Cirebon yang nyaris punah itu terdiri dari delapan kelompok kesenian, yakni enam jenis dari kelompok karawitan, satu dari seni teater, empat dari pedalangan, satu dari musik, lima dari seni tari, dua dari seni sastra, satu dari seni rupa, dan delapan jenis dari seni pertunjukan rakyat.

Sementara dua jenis kesenian yang dinyatakan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Cirebon telah punah masing-masing Tunil yang termasuk kelompok seni teater serta Wayang Catur dari kelompok pedalangan.

“Dahulu ragam kesenian khas Cirebon diminati banyak orang, baik lokal maupun mancanegara. Di antaranya tarling, masres (sandiwara), genjring, namun sekarang beberapa nyaris punah bahkan ada yang punah,” papar Kepala Disbudparpora Kabupaten Cirebon Asdullah.

Menurutnya, hal ini tak lepas dari semakin sepinya pementasan kesenian-kesenian khas. Maraknya budaya pop di tengah masyarakat, seperti halnya organ tunggal, telah menggeser popularitas kesenian daerah hingga di ambang keterpunahan.

“Masyarakat kini cenderung lebih menyukai menampilkan organ tunggal pada event-event istimewa mereka. Padahal, biaya sewa organ tunggal maupun pertunjukan pop lainnya terhitung lebih mahal,” imbuhnya.

Menurut dia, masyarakat harus lebih didorong mencintai kesenian Cirebon. Untuk ini, pihaknya sendiri mengupayakan pelestarian melalui pementasan-pementasan kesenian khas Cirebon dalam setiap event, baik di tingkat desa hingga daerah.

“Kesenian tradisional mengandung nilai-nilai kearifan lokal. Kami harap masyarakat membesarkannya agar Cirebon tetap menjadi kota budaya dan pariwisata,” pungkas dia.

Kepala Seksi Kesenian Bidang Kebudayaan Disbudparpora Uuk Sukarna menambahkan, saat ini setidaknya hanya sepuluh kesenian khas Cirebon yang masih berkembang. Kesepuluh kesenian itu yakni Wayang Kulit Purwa, Tari Topeng Cirebon, Lukis Kaca, Sungging Wayang Kulit, Ukir Kedok, Pahat Ukir Batu (Prasasti), Tekes, Batik Trusmi, Kaligrafi, dan Burok.

“Sedangkan yang nyaris punah di antaranya Karawitan Cirebon, Gemyung, Wayang Golek Purwa, Sandiwara, Tarling Klasik, Angklung Bungko, dan masih banyak lagi,” ungkapnya.

Terpisah, untuk menyelamatkan naskah-naskah kuno di Keraton Kasepuhan Cirebon, kemarin (Senin, 24/03/2014) Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat menandatangani MoU dengan Kepala Perpustakaan Nasional RI Sri Sularsih di Jakarta. Kerjasama itu sendiri merupakan yang pertama kali antara keraton di Indonesia dengan perpustakaan.

“Ini kehormatan bagi keraton dan masyarakat Cirebon. Diharapkan kerjasama ini bermanfaat bagi masyarakat Cirebon,” tutur Sultan melalui siaran persnya.

Dia menyebutkan, kerjasama itu meliputi pelestarian naskah kuno, digitalisasi naskah kuno, mikro film naskah kuno, alih aksara ke huruf latin, penterjemahan, hingga publikasi. Sultan melanjutkan, pelestarian naskah kuno, bermanfaat untuk menggali kearifan lokal demi kejayaan bangsa Indonesia.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s