Pasar Batik Cirebon, Dikuasai Perajin Besar

Wakil GubernurJawa Barat Deddy Mizwar seusai meresmikan salah satu galeri batik di wisata batik Desa Trusmi Kabupaten Cirebon.
Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar (kiri) seusai meresmikan salah satu galeri batik di wisata batik Desa Trusmi Kabupaten Cirebon.

(Suara Gratia)Cirebon – Mekanisme penempatan kios pada pasar batik di kawasan Weru, Kabupaten Cirebon, yang didominasi perajin-perajin batik besar, mengundang kekecewaan Bupati Cirebon Sunjaya Purwadi Sastra.

Dia menekankan, pasar batik yang pembangunannya didanai Pemerintah Provinsi Jawa Barat itu, harus ditempati perajin-perajin batik kecil. Perajin batik besar yang memiliki showroom atau ruang pamer sendiri selayaknya dikesampingkan.

“Saya dapat laporan dari dinas perindustrian dan perdagangan, ternyata perajin besar pemilik showroom banyak yang akan menempati kios-kios di pasar batik. Ini tidak proporsional, harusnya ditempati perajin kecil atau UMKM sedangkan pemilik showroom besar tidak boleh,” bebernya saat ditemui di sela-sela kirab budaya dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Cirebon.

Saat ini, pasar batik sendiri belum terealisasi. Meski bangunannya sudah berdiri tak jauh dari Pasar Pasalaran, kios-kios yang sudah berdiri belum ditempati. Proyek yang didanani APBD Pemprov Jabar ini sudah beberapa lama terkesan mangkrak dengan ilalang yang memenuhi halaman sekitarnya.

Sunjaya sendiri mendorong penyelesaian pasar batik tersebut karena dipandang memiliki nilai positif bagi perekonomian masyarakat pebatik. Lebih jauh dia menyatakan, akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk kelanjutan pembangunan pasar batik.

Dia menyebutkan, Cirebon memiliki kekayaan kerajinan batik yang besar. Batik khas Cirebon, lanjut dia, bukan hanya batik Trusmi. Rata-rata setiap kecamatan di Kabupaten Cirebon memiliki kekhasan motif batik masing-masing, seperti Ciwaringin, Greged, Susukan, dan lainnya.

Selain pasar batik, pihaknya juga berupaya untuk melestarikan batik melalui festival-festival budaya secara rutin. Namun dalam kesempatan yang sama, Camat Weru Teguh Supriyadi menampik penguasaan kios-kios pasar batik tersebut oleh perajin batik besar.

Dia menyebutkan, saat ini sudah terdaftar sekitar 450 perajin batik Cirebon yang akan menempati kios-kios pada pasar batik. “Semuanya perajin batik yang belum punya showroom,” kata dia.

Dia menyatakan, pasar batik kelak hanya mengutamakan penyediaan produk batik asli khas Cirebon. Hal ini lebih untuk menjaga pasar dan kelestarian batik Cirebon sendiri.

“Batik dari luar Cirebon nantinya tak akan diizinkan masuk ke dalam pasar batik. Pasar ini khusus menyediakan batik-batik khas Cirebon saja,” kata dia.

Menurut Teguh, rencananya akhir tahun ini pasar batik di atas lahan seluas sekitar empat hektar tersebut akan diresmikan. Namun sebelum itu, akan dibangun puluhan kios lain untuk melengkapi yang sudah terbangun sehingga tercapai total 128 kios.

Pembangunan kios pelengkap ini, menggunakan anggaran yang bersumber dari APBD Kabupaten Cirebon tahun anggaran 2014 sekitar Rp 3,5miliar. Dia mengakui, pembangunan pasar batik dari dana Pemprov dihentikan sementara karena anggarannya tak lagi mengucur. Pembangunan pasar batik sejak semula disebutnya menggunakan dana sharing dengan Pemkab Cirebon.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s