Rp 15 miliar Hilang, Akibat Adanya Penggorek Batubara di Pelabuhan Cirebon

Ilustrasi
Ilustrasi.

(Suara Gratia)Cirebon – Aktivitas penggorek batubara di Pelabuhan Cirebon kini kian meresahkan pengusaha. Pasalnya, mereka meminta paksa jatah batubara tersebut kepada pengusaha batubara. Akibatnya, pengusaha batu bara yang kapalnya bersandar di Pelabuhan Cirebon diperkirakan mengalami kerugian Rp 375 juta – 1,25 miliar per bulan atau Rp 4,5 -15 miliar per tahun.

Oleh karena itu, PT.Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC Cabang Cirebon berkomitmen untuk menegakkan implementasi ISPS (International Ship and Port Facility Security) Code guna menertibkan keberadaan penggorek batubara di lingkungan kerja Pelabuhan Cirebon.

General Manager IPC Cabang Cirebon, Hudadi Soerja Djanegara mengatakan, penegakkan ISPS Code ini didukung penuh oleh stakeholders terkait, yakni APBMI (Asosiasi Perusahaan BongkarMuat Indonesia), INSA (Indonesian National Shipowners Association), KSOP (Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan) Cirebon dan Kepolisian Kawasan Pelabuhan Cirebon.

“Pelabuhan Cirebon telah ditetapkan sebagai pelabuhan internasional dan wajib mematuhi ISPS Code sesuai ketentuan yang dikeluarkan oleh International Maritime Organization (IMO). Oleh karena itu, IPC Cabang Cirebon terus berupaya melakukan pembenahan dalam hal keamanan operasional area pelabuhan, terutama dalam penertiban penggorek batubara,” tuturnya.

Ia menjelaskan, pada awalnya penggorek batubara merupakan warga pesisir di sekita rwilayah pelabuhan dan bekerja sebagai penyapu tumpahan ceceran batubara. Namunkeberadaan penggorek batubara semakin mengganggu kegiatan di Pelabuhan Cirebon karena mereka mulai melakukan pengambilan muatan batubara secara paksa terhadap setiap kapal tongkang yang masuk ke pelabuhan.

“Hal ini tentu tidak sesuai dengan ketentuan ISPS Code yang menyatakan bahwa pelabuhan adalah area yang steril,” imbuhnya.

Kehadiran penggorek batubara berdampak pada menurunnya arus kappal serta merosotnya produktivitas kerja. Pihaknya berharap, dengan komitmen ini, persoalan penggorek batubara dapat ditangani dengan baik bersama dengan semua stakeholders, terutama dengan adanya dukungan dari para asosiasi, Otoritas Pelabuhan dan pihak keamanan.

Pelabuhan Cirebon merupakan pelabuhan yang memiliki peran strategis dalam menangani sekitar 90 persen muatan curah dimana 80 persennya berupa produk batubara.

“Bila tidak memenuhi ketentuan ISPS Code, maka pelabuhan Cirebon dapat dianggap tidak memenuhi persyaratan kelayakan sebuah pelabuhan. Konsekuensi yang dihadapi adalah adanya penolakan kapal Indonesia oleh pelabuhan di Negara tujuan dan pelabuhan Indonesia tidak akan disinggahi kapal asing.  Sehingga penegakkan ISPS Code di lingkungan kerja pelabuhan Cirebon menjadi tanggungjawab kita bersama agar tercipta keselamatan, keamanan dan kenyamanan yang lebih baik,” tutup Hudadi Soerja Djanegara.

Sementara, menurut Manajer Operasi PT Pelindo II Cabang Cirebon, Yossianis Marciano, lokasi Pelabuhan yang strategis berdekatan dengan propinsi Jawa Tengah, menjadikan Pelabuhan Cirebon sebagai pelabuhan pengumpan atau feeder port.

Olehkarena itu, penegakkan ISPS Code di lingkungan kerja pelabuhan menjadi prioritas utama. Aksi penegakkan ISPS Code dimulai dengan sosialisasi tentang pas masuk Pelabuhan Cirebon, penyiapan fasilitas pengamanan dan operasional, koordinasi dengan para stakeholders, termasuk asosiasi, pemerintah daerah, pihak otoritas pelabuhan dan pihak keamanan setempat.

“Jumlah pengorek batu bara yang beroperasi di Pelabuhan Cirebon saat ini diperkirakan sekitar 350 orang yang terbagi menjadi 17 kelompok kerja,” tutupnya.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s