Dituduh Menipu, Wakil Walikota Cirebon Dilaporkan ke Polisi

Wakil Walikota Cirebon Nasrudin Azis menunjukkan bukti-bukti menampik tuduhan penipuan yang diarahkan padanya.
Wakil Walikota Cirebon Nasrudin Azis menunjukkan bukti-bukti menampik tuduhan penipuan yang diarahkan padanya.

(Suara Gratia)Cirebon – Wakil Wali Kota Cirebon Nasrudin Azis dilaporkan ke Polres Cirebon Kota atas tuduhan tindak pidana penipuan. Azis pun mengancam akan melaporkan balik apabila laporan tersebut tidak dicabut dan dia pun meminta permohonan maaf atas pelaporan tersebut.

Azis dilaporkan oleh seorang warga Desa Kepompongan Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon Faraz Nahdiyani pada 13 Mei 2014. Pelapor yang juga korban, Faraz melalui kuasa hukumnya, Iskandar menjelaskan, kasus itu terjadi sekitar Oktober 2012 lalu.

Ketika itu Azis diketahui telah menjaminkan sertifikat atas rumah di Desa Kepompongan, Kecamatan Talun, milik ayah pelapor, Sutisno (alm). Sutisno sendiri diketahui telah meninggal dunia Juni 2013, begitu juga dengan istrinya yang meninggal beberapa tahun sebelumnya.

Rumah yang diperkarakan saat ini telah dimiliki keempat anaknya sebagai ahli waris. Diduga, melalui istri keduanya Sutisnolah Azis bisa meminjam sertifikat rumah untuk digadaikan ke bank.

Pelaporan ke polisi berawal ketika pihak ahli waris Sutisno menerima surat penagihan dari Bank BTN atas cicilan piutang sekitar Rp 300 juta dengan jaminan sertifikat rumah milik keluarga Sutisno. Mereka terkejut karena merasa tak pernah menggadaikan sertifikat rumah.

Diketahui, dalam surat penagihan itu tertera nama Nasrudin Azis. Pihak ahli waris melalui kuasa hukumnya mencoba menemui Azis beberapa kali, namun tak berhasil. Padahal, pihak ahli waris mengaku tak pernah merasa menjual rumah maupun lahan kepada Azis.

Pihak ahli waris selanjutnya memutuskan melaporkan mantan Ketua DPRD Kota Cirebon itu ke polisi dengan tuduhan penipuan. Laporan tersebut sudah masuk ke Polres Cirebon Kota dengan bukti Surat Tanda Penerimaan Laporan nomor LP/578/B/V/2014/JBR/CRB KOTA.

Tak hanya melaporkan Azis, pihak ahli waris juga melayangkan somasi tertanggal 24 April 2014 dengan nomor 27/SM/ADV/IV/2014 kepada BTN karena dianggap telah menyetujui kredit dengan jaminan bukan milik peminjam, melainkan milik orang lain dan tanpa persetujuan pemilik atau ahli waris. Rumah warisan itu digadaikan Azis ke BTN.

“Padahal pihak ahli waris tidak pernah tahu ataupun menyetujuinya. Tapi tiba-tiba ada tagihan atas nama Nasrudin Azis ke rumah korban,” beber Iskandar.

Iskandar juga membeberkan surat peringatan III dari Bank BTN dengan nomor 005/CRB.II//LCWO/II/2014 dengan nomor account 0003501010065003 kepada Nasrudin Azis. Dalam surat itu disebutkan, hingga 26 Februari 2014 Azis masih menunggak kewajiban membayar Rp 322.738.184.

“Rumah itu sudah masuk pelelangan negara karena piutangnya tak dibayar Azis. Ahli waris merasa ditipu dan dirugikan, maka kami laporkan karena sudah masuk unsur pidana melanggar KUHP pasal 378 tentang penipuan,” imbuhnya.

Dalam sebuah kesempatan, Kasat Reskrim Polres Cirebon Kota AKP Hidayatullah membenarkan tentang adanya laporan dugaan kasus penipuan tersebut. “Memang ada laporan soal itu, tapi masih kami selidiki,” katanya.

Terpisah, kepada sejumlah wartawan Wakil Wali Kota Cirebon Nasrudin Azis mengklarifikasi persoalan tersebut dan mengancam akan melapor balik pihak ahli waris Sutisno. Tuduhan itu bahkan dinilainya keji dan pihak ahli waris Sutisno harus meminta maaf dan mencabut laporannya.

“Peralihan hak jual beli tanah atas nama Sutisno itu atas permintaan Sutisno sendiri saat masih hidup pada 2011. Alasannya Sutisno tak bisa meminjam uang lagi ke bank, entah kenapa alasan bank,” terangnya.

Azis mengaku memenuhi permintaan itu dengan dasar hubungan pertemanan dan kemanusiaan. Dia pun meyakinkan, uang hasil jual beli dari KPR BTN diterima Sutisno sepenuhnya, sementara Azis sendiri tak mengetahuinya.

Meski secara hukum sertifikat tanah itu atas nama dirinya, Azis memastikan dirinya tak pernah merasa memiliki rumah tersebut. “Saya sadar betul itu rumah Sutisno, sampai sekarang ditempati ahli waris Sutisno pun saya tak pernah menempatinya,” tegasnya.

Selama angsuran rumah pun, cicilan dibayarkan Sutisno sendiri. Selama itu, rupanya ada tunggakan Sutisno yang tak lancar yang oleh BTN peringatannya diberikan kepada Azis sebagai pemilik tanah sebagaimana tercantum dalam sertifikat.

Dia mengaku telah mengirimkan kembali peringatan dari bank dan memperingatkan Sutisno maupun anak-anaknya agar menyelesaikan tunggakan. Namun setelah Sutisno meninggal, tunggakan itu bahkan macet total. Sebelum diproses bank lebih jauh, dirinya kembali mengingatkan anak-anak Sutisno untuk membereskannya.

Namun rupanya tak ada upaya itu sampai akhirnya BTN berencana menyita tanah dan rumah. Merasa telah memperingatkan pihak keluarga Sutisno, Azis pun terkejut karena tiba-tiba ada laporan ke polisi atas dirinya. Bahkan dia geram karena dituduh pelapor telah berlaku dzalim terhadap anak yatim piatu.

Sejauh ini, dia sendiri belum dipanggil kepolisian untuk dimintai keterangan dan belum menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya. Dia menyerahkan persoalan ini kepada ahli waris Sutisno dan berharap memenuhi tanggung jawabnya ke bank, bukan menimpakan kesalahan pada dirinya.

“Ini harga diri saya, kalau ahli waris Sutisno tak mencabut laporan dan meminta maaf, saya akan lapor balik. Itu tuduhan keji,” pungkasnya.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s