Polisi Tetapkan Tersangka dalam Kasus Kematian Mahasiswa di Cirebon.

(Dari kiri ke kanan)Hadir dalam gelar perkara tersebut Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Martinus Sitompul, Dir Reskrim Umum Polda Jabar Kombes Pol Saidil Mursalin, dan Kapolres Cirebon Kota AKBP Dani Kustoni.
(Dari kiri ke kanan) Kapolres Ciko AKBP Dani Kustoni, Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Martinus Sitompul, Dir Reskrim Umum Polda Jabar Kombes Pol Saidil Mursalin, dan Kapolres Kuningan AKBP Harry Kurniawan, dalam gelar perkara kasus kematian AQJ di Mako Ciko.

(Suara Gratia)Cirebon – Polisi telah menetapkan satu orang tersangka atas kasus kematian mahasiswa semester III Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon, Abdul Qodir Jaelani (19 tahun), saat mengikuti kegiatan pecinta kelestarian alam (Mahapeka) akhir Januari lalu.

Meski telah menetapkan salah satu tersangka yakni GR seorang mahasiswa IAIN yang bertugas sebagai Komandan Latihan Pelaksana Kegiatan, polisi menyatakan tidak enutup kemungkinan dalam kasus tersebut akan memunculkan tersangka baru.

Hal ini terungkap atas gelar perkara Polda Jabar bersama Polres Kuningan dan Polres Cirebon Kota (Ciko) di Markas Komando Ciko Jalan Veteran.

“Dari hasil penyidikan sejak Pebruari 2014 lalu, saat ini kami menetapkan satu tersangka yaitu GR, karena keterlibatannya sebagai Komandan Latihan. Tersangk bisa saja bertambah,” beber Kapolres Kuningan AKBP Harry Kurniawan kepada sejumlah wartawan (Rabu 28/5).

 

Sementara, Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Martinus Sitompul menegaskan, berdasarkan bukti forensik yang dilakukan pihaknya kematian Jaelani bukan akibat penyiksaan ataupun penganiayaan. Maka, GR dalam hal ini dikenai pasal 359 KUHP mengenai kelalaian yang menyebabkan seseorang tewas.

“Dalam proses penyidikan yang kami lakukan, tidak ada tiga unsur yang dapat menyebabkan kematian pada seseorang yaitu, perkenaan pada kepala, perkenaan pada dada, dan perkenaan pada perut. Karena tidak memenuhi unsur-unsur penganiayaan, maka kami mengalihkannya pada sangkaan kelalaian,” jelasnya.

Martinus melanjutkan, saat latihan Jaelani mengeluhkan sakit, sejumlah saksi membenarkan itu dan bahkan telah menyampaikannya kepada ketua pelaksana untuk diteruskan kepada GR sebagai komandan pelaksana. Namun, GR tidak menghiraukan laporan tersebut, dan tetap melanjutkan latihan di kawasan Gunung Ciremai di Kabupaten Kuningan. Padahal, sebagai komandan GR bertanggung jawab untuk memperhatikan kondisi fisik dan mental peserta selama latihan.

Mengenai lamanya proses penyidikan yang memakan waktu hingga empat bulan, Dir Reskrim Polda Jabar Kombes Pol Saidin Mursalin mengaku, proses penanganan yang memakan watu empat buan masih dalam kewajaran. Dia menegaskan, sebelum menentukan tersangka harus ada bukti maupun keterangan saksi yang mengarah pada sangkaan tersebut

“Penanganan perkara itu tidak ditentukan lama atau tidaknya, kepolisian untuk menentukan tersangka harus memenuhi bukti permulaan yaitu, ada laporan polisi, ada keterangan saksi, keterangan surat, keterangan ahli, petunjuk, baru ada tersangka. Untuk memenuhi unsur tersebut, membtuhkan waktu, saya kira waktu ini masih dalam batas yang wajar,” tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, Jaelani, mahasiswa asal Desa Lungbenda RT 03/01, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon, diduga menjadi korban kekerasan senior hingga tewas saat mengikuti latihan pecinta alam, akhir Januari 2014. Pihak keluarga bersikeras melaporkan kasusu tersebut kepada polisi, karena mereka menilai terdapat sejumlah kejanggalan dalam kematian AQJ.(Frans. C mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s