Terkena DBD, 9 orang Warga Kabupaten Cirebon Meninggal Dunia

Nyamuk Aedes Aegypti. (sumber: wikipedia)
Nyamuk Aedes Aegypti. (sumber: wikipedia)

(Suara Gratia)Cirebon – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon mencatat, dari 300 kasus Demam Berdarah Dongue (DBD) sebanyak sembilan orang telah meninggal dunia. Bupati Cirebon Sunjaya Purwadi Sastra turun tangan langsung melakukan fogging atau pengasapan di pemukiman penduduk, di Desa Pamengkang, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, bersama petugas Dinkes.

Belakangan diketahui, di daerah ini, seorang balita Anwar (4 tahun) warga RT 03/09 meninggal akibat gigitan nyamuk aedes aegypti ini.

Dengan memakai seragam khusus dan masker pada wajahnya, Bupati mengasapi sejumlah rumah warga di desa tersebut. Bupati mengaku prihatin atas kematian balita tersebut, sehingga ia memutukan melakukan fogging tersebut.

“Memprihatinkan yang meninggal adalah balita. Saya tak ingin ada korban lain lagi jatuh di Kabupaten Cirebon akibat DBD,” tuturny. Sunjaya berjanji, akan bergerak cepat menangani masalah kesehatan yang mengancam jiwa warganya melalui instansi terkait. “Kita akan bergerak lebih cepat mengatasi ancaman kesehatan masyarakat,” tegasnya.

Kepala Dinkes Kabupaten Cirebon Triyani menyebutkan, hingga pekan ke-20 pada 2014 ini, 90% kecamatan dinyatakan endemis DBD. Sampai kini sudah sekitar 300 kasus DBD, dengan sembilan orang meninggal dunia di delapan kecamatan. DBD saat ini memang menjadi ancaman serius di Kabupaten Cirebon.

“Di Kecamatan Mundu sendiri, tercatat 15 orang terserang DBD. Para korban tersebar di enam desa, masing-masing tujuh orang di Desa Pamengkang, tiga orang di Banjarwinangun, dua orang di Mundu Pesisir, seorang di Setupatok, seorang di Waruduwur, dan seorang lagi di Desa Suci,” terangnya.

Pihaknya mengaku, untuk mencegah menyebarnya DBD, selain melakukan penyemprotan, telah melakukan upaya pemberantasan sarag nyamuk (PSN) serta penggunaan abate pada penampungan air bersih milik warga di daerah endemik. “Namun yang tidak kalah penting adalah, menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS),” katanya.

Sementara itu ayah Anwar, Habib, (30 tahun) menuturkan, anaknya terserang DBD pada Rabu (21/5) lalu. Anwar ketika itu terserang demam tinggi dan membuatnya memutuskan membawa sang anak ke rumah sakit secepatnya.

“Sempat dirawat dan stabil sore hari, tapi malamnya Anwar demam tinggi lagi bahkan kejang-kejang,” ungkapnya.

Dokter yang merawat Anwar menyampaikan trombosit anaknya 7.000 dan mendekati koma. Anwar pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 05.00 WIB pada Kamis (22/5). Habib sendiri mengaku pasrah dengan kepergian sang anak, namun dia berharap penanganan DBD lebih baik di tengah masyarakat.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s