Kuliner Asing Ancam Eksistensi Kuliner Keraton Cirebon

Sultan Sepuh ke-XIV PRA Arief Natadiningrat (tengah) dan Head of Marketing PT ABC President Indonesia Nurkori (kiri), dalam kegiatan Gerakan Makan Gulai.
Sultan Sepuh ke-XIV PRA Arief Natadiningrat (tengah) dan Head of Marketing PT ABC President Indonesia Nurkori (kiri), dalam kegiatan Gerakan Makan Gulai.

(Suara Gratia)Cirebon – Derasnya arus globalisasi belakangan ini, berimbas pada tergerusnya kuliner lokal khas Keraton Cirebon bahkan sejumlah kuliner Keraton diklaim eksistensinya telah hilang termakan zaman.

Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat mengatakan, beberapa kuliner khas keraton yang eksistensinya menurun di antaranya Abing Kakap (semacam perkedel ikan yang disatai), Nasi Bogana, dan lainnya. Menurutnya, kondisi ini dianggap memprihatinkan mengingat kuliner merupakan bagian kearifan lokal dan Keraton bagian dari budaya.

“Kita ini punya kuliner nusantara atau kuliner lokal, namun dibanjiri kuliner luar negeri yang siap saji seperti makanan olahan, makanan kaleng dan lainnya, hingga menggeser eksistensi kuliner lokal, tak terkecuali kuliner khas keraton. Kuliner nusantara kita jangan sampai hilang,” terangnya di sela acara peluncuran gerakan gemar makan gulai di Keraton Kasepuhan Cirebon, (Senin, 9/6).

Sultan menilai, secara umum generasi muda kini tak lagi memiliki selera nusantara, pasalnya menurut beberapa pengakuan sahabat-sahabatnya anak-anak mereka tidak menyukai makanan lokal. “Tidak sedikit anak muda yang tidak menyukai kuliner lokal, salah satunya dialami generasi muda di Cirebon. Menurut pengakuan teman-teman saya, anak-anak mereka susah sekali mengkonsumsi makanan lokal, seleranya sudah tidak nusantara lagi,” tandasnya.

Padahal, kuliner lokal memiliki kelebihan dibanding makanan asing terutama dari rasanya yang kaya karena menggunakan rempah-rempah. Selain itu, kuliner lokal juga bernilai gizi tinggi yang sesungguhnya sesuai dengan kebutuhan nutrisi orang Indonesia. “Kuliner kita itu kaya akan rasa, semua rasa itu ada di kuliner kita ini, yang justru tidak dimiliki oleh makanan asing,” katanya.

Gerakan gemar makan gulai sendiri dicetuskan mengingat kuliner asli Indonesia ini mulai redup di tengah serbuan kuliner asing. Gerakan yang dicetuskan salah satu produsen mie ini dimaksudkan untuk menghidupkan kembali nama gulai.

Ditempat yang sama, Ketua Penggerak Tim PKK Cirebon Erni Astuti menyatakan ketertarikannya terhadap gerakan makan gulai, karena menurutnya kegiatan seperti ini mendorong ibu-ibu untuk mencintai kuliner Indonesia, khususnya gulai. “Dengan gerakan seperti ini, semoga masyarakat lain lebih teredukasi, apalagi ibu-ibunya yang biasa masak untuk keluarga di rumah,” tuturnya.

Sementara itu, Indonesia diketahui merupakan konsumen mie kedua terbesar di dunia setelah Cina. Jika jumlah pemakan mie di Cina diketahui sekitar 44 miliar bungkus/tahun, maka di Indonesia setidaknya tercatat 14 miliar bungkus/tahun.

“Makanya pasar mie di Indonesia terhitung besar,” ungkap Head of Marketing PT ABC President Indonesia Nurkori usai peluncuran gerakan gemar makan gulai di lokasi yang sama.

Cirebon sendiri menjadi lokasi pertama peluncuran gerakan ini, sebelum beralih ke Tasikmalaya, Yogyakarta, dan Solo. Gerakan ini didukung pula kalangan ibu Gerakan PKK Kota Cirebon.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s