Rektor dan Mahasiswa Unswagati Bersitegang

(Suara Gratia)Cirebon – Sabtu malam lalu (7/6) Rektor Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon (Unswagati) Prof Dr Djohan Rochanda Wiradinata, mengelar ekspos sejumlah capaian kinerjanya pada 100 hari pertama, namun momentum ini menuai ketegangan di kalangan internal Unswagati.

Hal ini dianggap kebohongan publik oleh mahasiswanya sendiri, karena dipandang tidak ada yang berubah di Unswagati sejak kepemimpinan Djohan. Kemarin (Senin, 9/6), terlihat sejumlah mahasiswa kampus setempat terlibat ketegangan dengan rektor. Djohan rupanya tak bisa menahan emosi ketika mahasiswa nekat menaiki mobil sang rektor. Dengan langkah cepat, Djohan keluar dari ruangannya dan mendekati mahasiswanya yang tengah berunjukrasa.

Adu mulut dan ketegangan pun tak bisa terhindarkan. Dengan raut wajah penuh emosi, Djohan menyuruh mahasiswanya turun dari mobil Innova warna silver dengan plat E 1 AZ itu. Setelah mahasiwanya turun, Djohan kemudian berusaha merebut megaphone yang digunakan mahasiswa berunjukrasa. Namun mahasiswa tak mau mengalah.

Setelah petugas keamanan dan sejumlah pejabat kampus membantu melerai, akhirnya situasi bisa dikendalikan. Mahasiswa yang berunjukrasa kemudian diajak beraudiensi di ruangan rektor.

Sebelum terlibat ketegangan dengan rektor Djohanda, mahasiswa tersebut terlebih dahulu terlibat ketegangan dengan sejumlah petugas keamanan kampus dan jajaran rektorat. Terlebih saat mahasiswa membakar ban dan berorasi di depan rektorat. Saat itu petugas keamanan kampus dan jajaran rektorat berusaha memadamkan api, namun dihalangi mahasiswa.

Aksi saling dorong dan lontar ucapan kasar terjadi antara mahasiswa dan pihak kampus. Sontak hal itu membuat situasi memanas. Merasa keinginannya agar rektor keluar dari ruangan dan menemui mereka tak digubris, mahasiswa kemudian menaiki mobil yang digunakan rektor.

Koordinator aksi, Anton Sulaeman menyampaikan, aksi unjukrasa yang dilakukan pihaknya sebetulnya berlangsung damai. Hanya saja, menurut Anton, karena sikap berlebihan dari pihak kampus yang melarangnya untuk membakar ban dan berorasi, maka akhirnya terjadilah ketegangan.

“Kita ini aksi damai refleksi 100 hari kerja rektor. Dari awal kita sudah sampaikan, kita membawa cinta dan kedamaian. Tapi malah perlakuan kasar yang kita dapatkan,” ungkap Anton.

Anton menambahkan, pihaknya bertujuan mengkritisi 100 hari kerja rektor Djohan. Karena menurutnya, meski rektor dan jajarannya mengklaim banyak melakukan perubahan, namun mahasiswa tak merasakan itu. Bahkan, apa yang diekspose pihak kampus ke media massa, adalah kebohongan publik.

“Mana? Tidak ada yang berubah di kampus ini. Apa yang sudah dikerjakan rektor baru? Itu semua kebohongan publik. Mengaku sudah berhasil ini itu. Wajar dong kalau kita mempertanyakan apa saja yang sudah dikerjakan rektor. Pada dasarnya kita ingin yang terbaik bagi kampus kita,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Rektor III Unswagati Dudung Hidayat SH MH yang sempat meladeni pengunjukrasa menyampaikan, jika ingin menyampaikan aspirasinya kepada rektor, dipersilahkan untuk beraudiensi di dalam ruang rektor. “Silahkan, mari berdialog di dalam. Ini kan kampus kita bersama, jadi mari jaga bersama,” katanya.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s