Polisi Lanjutkan Penyidikan Kasus Penipuan Nasrudin Azis

Kapolres Cirebon Kota, AKBP Dani Kustoni.
Kapolres Cirebon Kota, AKBP Dani Kustoni.

(Suara Gratia)Cirebon – Untuk memperjelas kasus, sejumlah saksi akan diperiksa dan Polres Cirebon Kota (Ciko) akan memanggil Wakil Wali Kota Cirebon Nasrudin Azis, terkait kasus penipuan sertifikat tanah yang melibatkan dirinya.

Kapolres Ciko AKBP Dani Kustoni mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih akan terus memproses kasus tersebut, dan mempelajarinya hingga tuntas. “Melalui Reskrim kami pelajari terus dengan mengumpulkan data-data tambahan,” tuturnya.

Dani menyebutkan, sejumlah saksi terkait kasus penipuan yang melibatkan nama Wakil Wali Kota Cirebon ini sudah dipanggil dan dimintai keterangannya, pihaknya mengaku tidak menutup kemungkinan jumlah saksi akan bertambah.

Menurutnya, dalam suatu kasus pemanggilan saksi-saksi merupakan sesuatu yang biasa terjadi, oleh karena itu tidak menutup kemungkinan jika diperlukan wakil wali kota pun akan dianggil sebagai saksi.

“Sejauh ini, polisi belum merasa perlu memanggil pak wakil wali kota,” katanya.

Sementara, diberitakan sebelumnya, kepada sejumlah wartawan Wakil Wali Kota Cirebon Nasrudin Azis membantah keras persoalan tersebut dan mengancam akan melapor balik pihak ahli waris Sutisno. Tuduhan itu bahkan dinilainya keji dan pihak ahli waris harus meminta maaf dan mencabut laporannya.

“Peralihan hak jual beli tanah atas nama Sutisno itu atas permintaan Sutisno sendiri saat masih hidup pada 2011. Alasannya Sutisno tak bisa meminjam uang lagi ke bank, entah kenapa alasan bank,” terangnya.

Azis mengaku memenuhi permintaan itu dengan dasar hubungan pertemanan dan kemanusiaan. Dia pun meyakinkan, uang hasil jual beli dari KPR BTN diterima Sutisno sepenuhnya, sementara Azis sendiri tak mengetahuinya.

Meski secara hukum sertifikat tanah itu atas nama dirinya, Azis memastikan dirinya tak pernah merasa memiliki rumah tersebut. “Saya sadar betul itu rumah Sutisno, sampai sekarang ditempati ahli waris Sutisno pun saya tak pernah menempatinya,” tegasnya.

Selama angsuran rumah pun, cicilan dibayarkan Sutisno sendiri. Selama itu, rupanya ada tunggakan Sutisno yang tak lancar yang oleh BTN peringatannya diberikan kepada Azis sebagai pemilik tanah sebagaimana tercantum dalam sertifikat.

Dia mengaku telah mengirimkan kembali peringatan dari bank dan memperingatkan Sutisno maupun anak-anaknya agar menyelesaikan tunggakan. Namun setelah Sutisno meninggal, tunggakan itu bahkan macet total. Sebelum diproses bank lebih jauh, dirinya kembali mengingatkan anak-anak Sutisno untuk membereskannya.

Namun rupanya tak ada upaya itu sampai akhirnya BTN berencana menyita tanah dan rumah. Merasa telah memperingatkan pihak keluarga Sutisno, Azis pun terkejut karena tiba-tiba ada laporan ke polisi atas dirinya. Bahkan dia geram karena dituduh pelapor telah berlaku dzalim terhadap anak yatim piatu.

Sejauh ini, dia sendiri belum dipanggil kepolisian untuk dimintai keterangan dan belum menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya. Dia menyerahkan persoalan ini kepada ahli waris Sutisno dan berharap memenuhi tanggung jawabnya ke bank, bukan menimpakan kesalahan pada dirinya.

“Ini harga diri saya, kalau ahli waris Sutisno tak mencabut laporan dan meminta maaf, saya akan lapor balik. Itu tuduhan keji,” pungkasnya.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s