Solar Bersubsidi Dibatasi, Angkutan Umum di Cirebon Naikkan Tarif

Mikro bus jurusan Terminal Harjamukti-Ciledug, menaikkan dan maneurunkan penumpang di Terminal Harjamukti.
Mikro bus jurusan Terminal Harjamukti-Ciledug, menaikkan dan maneurunkan penumpang di Terminal.

(Suara Gratia)Cirebon – Setelah batas waktu penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar diberlakukan awal Agustus lalu oleh pemerintah, ongkos angkutan umum di Cirebon mengalami peningkatan sebesar 100 persen. Organda Cirebon pun keberatan dengan pembatasan tersebut.

Seperti diungkapkan seorang sopir mikro bus jurusan Terminal Harjamukti-Ciledug (Kabupaten Cirebon), Ujang, pembatasan penjualan solar bersubsidi memaksanya untuk menaikkan tarif angkutan yang semula Rp 6 ribu menjadi Rp 12 ribu.

“Biasanya ongkos dari Terminal ke Ciledug Rp 6 ribu, karena solar naik ya saya naikkan jadi Rp 12 ribu,” katanya.

Ujang mengaku, keberatan dengan pembatasan penjualan solar bersubsidi, karena dia merasa kesulitan mendapatkan solar, pasalnya trayek yang harus dijalaninya dari siang hingga malam, tidak seperti sebelumnya bisa mengisi solar dimanapun dan kapanpun.

“Saya bisa beli solar di mana saja, malam hari pun saya masih bisa beli dengan harga yang sama. Kalau solar habis di malam hari bagaimana? Apa harus di dorong?,” imbuhnya.

Dirinya harus beroperasi hingga malam hari karena penumpang pada saat itu tergolong banyak, terutama penumpang yang pulang kerja dari Kota Cirebon dan harus pulang ke wilayah timur Kabupaten Cirebon.

Hal yang sama pun diungkapkan Jarot, sopir mikro bus jurusan Cirebon-Kadipaten (Majalengka). Jarot mengaku, sejak penjualan solar dibatasi dirinya menaikkan tarif menjadi Rp 30 ribu, padahal biasanya hanya Rp 15 ribu.

“Untuk menutupi biaya operasional saya naikkan ongkos dua kali lipat, karena harga solar subsidi dengan non subsidi bedanya dua kali lipat,” katanya.

Jarot melanjutkan, kenaikkan tarif secara sepihak ini terpaksa dilakukannya mengingat belum ada tarif resmi yang ditetapkan pemerintah maupun dari Organisasi Angkutan Darat (Organda).

“Daripada kita menunggu lama keputusan dari pemerintah, mending kita naikkan dulu tarifnya, karena biaya operasional setiap hari terus berjalan, kalau tidak begini bisa rugi saya,” tandasnya.

Ia mengaku, setelah kenaikkan tarif ini dilakukannya, sebagian besar penumpang mengeluh, tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

Sementara, Sekretaris Organda Cirebon, Karsono, mengaku keberatan dengan kebijakan pemerintah yang membatasi penjualan solar bersubsidi.

“Angkutan umum ini kan sebagian besar melayani kebutuhan masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah, kenapa solarnya ko malah dibatasi,” katanya.(Frans C.Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s