Harga Gabah Tinggi, Bulog Cirebon Kesulitan Serap Beras Petani

Kepala Bulog Sub Divre Cirebon, Yayat Hidayat Fatahillah.
Kepala Bulog Sub Divre Cirebon, Yayat Hidayat Fatahillah.

(Suara Gratia)Cirebon – Bulog Sub Divre Cirebon mencari berbagai cara untuk melakukan penyerapan beras dari petani, karena harga gabah mengalami peningkatan.

Kepala Bulog Sub Divre Cirebon Yayat Hidayat Fatahillah mengatakan, tingginya harga gabah saat ini mempengaruhi penyerapan beras di Bulog Cirebon. Karena untuk membeli gabah dari petani, Bulog tidak terlepas dari harga pembelian yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.

“Tingginya harga gabah di tingkat petani sangat berpengaruh pada penyerapan beras Bulog,” ungkapnya, Kamis (21/8).

Yayat melanjutkan stok beras di Bulog Cirebon saat ini mencapai 68.500 ton, jumlahini masih jauh di bawah target penyerapan tahun 2014 sebesar 120 ribu ton. Oleh karena itu, Blulog Sub Divre Cirebon tetap akan berusaha untuk memaksimalkan penyerapan beras dari petani.

“Apalagi sekarang musim panen sudah dekat. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, puncak penyerapan terjadi pada Maret hingga Mei,” terangnya.

Sementara Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Cirebon, Tarsip Abu Bakar mengakui, jika saat ini harga gabah masih tinggi dan jauh di atas harga pembelian pemerintah (HPP). “Harga gabah kering panen saat ini masih dalam kisaran Rp 4.500/kg,” kata Tasrip.

Ini dikarenakan areal pertanian yang baru panen di Kabupaten Cirebon baru sekitar 30 persen. Yang  tersebar di beberapa wilayah seperti, di Kecamatan Ciwaringin, Kecamatan Susukan, Kecamatan Gintung dan Kecamatan Palimanan. Sisanya baru akan panen sebulan hingga dua bulan ke depan.

Tasrip memperkirakan, jika harga gabah akan terus mengalami kenaikan. Puncaknya pada November mendatang dimana harga gabah bisa mencapai pada kisaran Rp 5.500/kg.

“Karena saat ini merupakan paceklik, sehingga otomatis harga gabah pun akan tinggi,” katanya. Selain itu petani pun tidak menjual semua gabah yang mereka miliki usai panen gadu (kering). Mereka akan menjualnya sedikit demi sedikit menunggu hingga masa puncak paceklik tiba.

Dengan harga yang tinggi, Tasrip pun mengungkapkan jika petani akan lebih memilih untuk menjual gabah ke pasaran.

“Tapi dengan begitu stok pangan akan terjaga karena masyarakat masih memiliki beras. Tinggal kewajiban pemerintah saja untuk mengatur regulasi harga di pasaran,” katanya.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s