Peringati Hari Tani Nasional Mahasiswa Cirebon Turun ke Jalan

Demonstrasi mahasiswa di depan Balai Kota Cirebon.
Demonstrasi mahasiswa di depan Balai Kota Cirebon.

(Suara Gratia)Cirebon – Sedikitnya 150 mahasiswa Fakultas Pertanian dari Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon, melakukan aksi damai turun ke jalan menuntut pemerintah yang baru, menyelesaikan konflik agraria di Indonesia dan melaksanakan retribusi lahan seadil-adilnya untuk kesejahteraan rakyat. Hal ini sebagai bentuk refleksi memperingati 54 tahun Hari Tani Nasional.

Mereka berjalan kaki dari Kampus Unswagati Jl. Brigjend. Dharsono (By Pass) menuju Balai Kota Cirebon dengan jarak lebih dari 5 km. Demonstran memaksa bertemu dengan Wali Kota Cirebon Ano Sutrisno, untuk menandatangai surat pernyataan sebagai dukungan menerapkan kebijaka-kebijakan pertanian yang memihak rakyat banyak. Namun, upaya keras mahasiswa ini gagal karena Wali Kota tengah menghadiri kegiatan lainnya, akhrnya demonstran ditemui oleh Sekretaris Daerah.

Kordinator lapangan aksi demonstrasi, Tri Utomo mengatakan, negara harus melindungi warga negaranya dengan kebijakan yang memihak rakyat banyak. Artinya negara memiliki tanggungjawab dalam mencapai cita-cita bangsa sesuai dengan amanat pembukaan UUD 1945 dan Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 bahwa, negara menguasai tanah, air, udara dan seisinya untuk kesejahteraan rakyat.

Menurutnya, sejak Undang Undang Pokok Agraria (UUPA) nomor 5 tahun 1960 diterapkan, rakyat kecil sama sekali tidak dapat menikmati hasil pertanian, karena sumber daya alam Indonesia yang sangat kaya ini hanya dapat dinikmati segelintir orang yaitu para politisi, kaum elite, dan para penguasa.

“Negara hanya menyerahkan lebih banyak lahan untuk orang-orang dekat, pemodal besar, dan pengusaha. Sehingga banyak lahan pertanian berubah fungsi menjadi perkantoran, perumahan, dan kawasan industri,” katanya, ditemui di depan Balai Kota Cirebon Jl. Siliwangi, Rabu (24/9).

Ia dan para demonstran menilai, konflik sengketa lahan yang kini semakin bertambah luas menyebabkan rakyat kecil menjadi bulan-bulanan ketidakadilan kaum serakah yang telah melupakan hati nuraninya sebagai manusia. Petani yang berharap hasil taninya dapat menghidupi keluarga, pendidikan anak-anaknya, dan berobat saat mereka sakit. Malah, mereka harus berhutang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Ketika itu semua terjadi, dimana peranan pemerintah sebagai pengelola negara untuk mensejahterakan rakyatnya sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945? Apakah pemerintahan yang baru dapat menyelesaikan konflik agraria dan memberikan kebijakan-kebijakan adil untuk kemakmuran rakyat?” serunya.

Sementara, Sekretaris Daerah Kota Cirebon Asep Dedi yang menemui mahasiswa di Balai Kota mengaku, persoalan pertanian atau agraria merupakan tanggungjawab pemerintah, pihaknya berjanji akan menyerap aspirasi para demonstran.

“Hari Tani Nasional merupakan momen untuk melihat kembali nasib petani di Indonesia dan di Kota Cirebon khususnya. Ini merupakan tanggungjawab kami,” katanya.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s