Penertiban PKL di Stasiun Prujakan Cirebon Ricuh

Proses pembongkaran lapak PKL di Stasiun Prujakan Cirebon.
Proses pembongkaran lapak PKL di Stasiun Prujakan Cirebon.

(Suara Gratia)Cirebon – Rencana PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) III Cirebon untuk meningkatkan pelayanan dan kenyamanan penumpang dengan membuat taman dan fasilitas pejalan kaki di sekitar Stasiun Prujakan, mendapat perlawanan keras dari pedagang kaki lim (PKL). Pasalnya, pembuatan taman dan fasilitas pejalan kaki dengan luas lahan 200 meter persegi itu akan menggusur sekitar 72 lapak PKL yang berdiri di atasnya. Proses pembongkaran lapak PKL yang dimulai Kamis (25/9) pukul 07.00 WIB pun diwarnai kericuhan.

Pasalnya, puluhan lapak PKL yang berdiri permanen di Jl. Nyi Mas Gandasari Kota Cirebon itu merupakan hasil penertiban dan pindahan dari lapak sebelumnya di Jl. Tentara Pelajar tahun 2009 lalu. PKL menolak keras penggusuran yang dilakukan pihak PT KAI Daop III Cirebon, karena dinilai cacat hukum. Tidak terima dengan penggusuran tersebut, puluhan PKL melakukan perlawanan. Aksi saling dorong dan adu mulut dengan sekitar 200 petugas Daop III Cirebon yang diturunkan untuk menggusur PKL, tidak terhindarkan. Bahkan, salah satu PKL tangannya terluka akibat tertimpa lembaran seng yang jatuh dari salah satu atap lapak yang tengah ditertibkan. Suasana pun semakin memanas. Kericuhan dapat diredam oleh petugas kepolisian yang mengamankan jalannya penggusuran tersebut.

Ketua Badan Komunikasi Ikatan Pedagang Kaki Lima (BKI-PKL) Suhendi menyatakan, menurut Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 50 tahun 2009 kawasan Jl. Nyi Mas Gandasari tidak termasuk Kawasan tertib Lalu Lintas dan boleh ditempati PKL. Oleh karena itu pihaknya menolak untuk direlokasi.

“Penertiban PKL ini cacat hukum,” ujarnya, di tengah proses penggusuran, Kamis (25/9).

Sebelum ada solusi dan keputusan dari Wali Kota Cirebon, Suhendi menegaskan, akan terus bertahan dan tetap berjualan. Karena menurutnya, Pemkot Cirebon belum mengeluarkan izin pengggusuran dan belum ada tempat pengganti yang disediakan oleh PT KAI.

“Kita taat pada aturan, tapi Wali Kota saja belum mengeluarkan pernyataan atau keputusan untuk relokasi ini. Dimana PKL akan ditempatkan?. Belum ada,” tandasnya.

Ia menilai, tindakan PT Kai terlalu terburu-buru karena tidak memberikan waktu untuk PKL mencari tempat baru.

“Kami minta hari ini tetap berjualan,” katanya.

Kepala Humas Daop III Cirebon, Gatut Sutiyatmoko mengatakan, penertiban area di stasiun tidak bisa ditunda karena sudah masuk dalam rencana kerja,.

“Untuk memberikan kenyamanan kepada penumpang itu tidak bisa ditunda-tunda,” ujarnya.

Pihaknya mengklaim, sejak dua bulan lalu sudah melakukan koordinasi dengan pihak terkait yaitu Wali Kota dan Froum PKL untuk penertiban tersebut.

“Kami melakukan sosialisasi dan koordinasi sudah dua bulan,” tuturnya.

Menurutnya, PKL yang ada di area Stasiun Prujakan melanggar Perwali karena bangunan yang didirikan permanen dan waktu berjualannya pun sepanjang hari, padahal di dalam peraturan tersebut bangunan itu tidak boleh permanen dan jam operasionalnya pun pukul 18.00 WIB sampai pukul 02.00 WIB.

“Sadar tiadak sadar PKL sudah melanggar Perwali,” tandasnya.

Sementara itu, proses pembongkaran lapak PKL terus berlangsung.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s