Bulog Cirebon Siapkan Operasi Pasar

Kepala Bulog Sub Divre Cirebon, Yayat Hidayat Fatahillah.
Kepala Bulog Sub Divre Cirebon, Yayat Hidayat.

(Suara Gratia)Cirebon – Memasuki masa paceklik Bulog Sub Divre Paceklik, harga beras diprediksi semakin tinggi November hingga Januari mendatang. Operasi pasar (OP) pun disiapkan Bulog Sub Divre Cirebon.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Sub Divre Bulog Cirebon, Yayat Hidayat, Senin (6/10). “Dari 12 bulan alokasi beras untuk rakyat miskin (raskin), kami sudah menyalurkan 11 bulan,” katanya.

Ini berarti mereka tinggal menyalurkan 1 bulan alokasi beras raskin yaitu untuk bulan Oktober. Sedangkan alokasi raskin untuk November dan Desember menurut Yayat sudah ditarik penyalurannya di Februari dan Maret seiring dengan bencana banjir yang menerjang sejumlah daerah di wilayah Cirebon. Hingga kini pun Yayat mengaku belum mendapatkan instruksi apakah akan ada penyaluran raskin tambahan untuk November dan Desember mendatang.

Selain itu saat ini pun tengah terjadi masa paceklik. Paceklik terjadi karena masa panen gadu (kemarau) sudah habis. “Yang tersisa hanya panen terbatas di titik-titik tertentu saja,” kata Yayat. Ini bisa terlihat dari minimnya penyerapan beras yang dilakukan oleh Bulog Sub Divre Cirebon yang hanya mencapai 50 hingga 60 ton/hari.

Itu pun menurut Yayat hanya di titik-titik tertentu saja yang masih panen. Padahal saat puncak panen gadu, penyerapan beras yang mereka lakukan bisa mencapai hingga 400 ton perhari. Bahkan di musim panen rendeng (hujan) penyerapan yang mereka lakukan bisa mencapai 1.000 ton/hari.

Ketiadaan beras raskin yang disalurkan ditambah dengan masa paceklik, diprediksi akan melambungkan harga beras di pasaran pada November hingga Januari mendatang. Untuk mengatasinya, Bulog menurut Yayat sudah mempersiapkan operasi pasar (OP) untuk masyarakat. “OP akan dilakukan jika harga beras di pasaran sudah naik 25 persen dibandingkan harga normal,” kata Yayat.

Operasi pasar bisa dilakukan karena stok beras yang ada di gudang Bulog Sub Divre Cirebon total mencapai 57 ribu ton. Stok ini masih mencukupi hingga 10 bulan mendatang. “Stok yang ada sekarang pun mencukupi untuk operasi pasar di wilayah kerja Bulog Sub Divre Cirebon,” kata Yayat. Yang meliputi Kota dan Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan.

Untuk teknis operasi pasar, Yayat mengungkapkan jika mereka akan bekerja Sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat untuk menentukan lokasi penjualan beras OP. Sedangkan untuk menghindari aksi borong pedagang besar, beras OP akan dijual dalam kemasan kecil seperti kemasan 5 kg.

Sementara itu seorang pemilik penggilingan di Desa Kartasura Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon, Otong mengaku saat ini sudah sangat sulit mencari gabah dari petani.”Petani benar-benar jadi raja sekarang,” katanya. Karena harga jual gabah sangat tinggi dan mereka pun akan mencari pembeli yang berani membayar tinggi.

Saat ini, lanjut Otong, harga gabah di tingkat petani sudah mencapai Rp 4.600 hingga Rp 4.800/kg. “Sudah harganya mahal, gabah pun sulit didapatkan,” katanya.

Karenanya penggilingannya pun terus berkurang. “Saat ini paling banyak kami hanya giling gabah 5 ton,” katanya. Itu pun tidak setiap hari. Bahkan saat ini seringnya penggilingan Otong tidak beroperasi karena ketiadaan gabah. Padahal dalam kondisi normal, Otong mengaku penggilingannya bisa menggiling hingga 20 ton gabah dalam sehari.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s