Rumah Pemulihan Cirebon, Sembuhkan Orang Gila

Jhoni Liunesi dan anaknya (tengah) bersama Dani (kiri) dan Husein (kanan) di rumah Pemulihan Cirebon.
Jhoni Liunesi dan anaknya (tengah) bersama Dani (kiri) dan Husein (kanan) di rumah Pemulihan Cirebon.

(Suara Gratia)Cirebon – Orang gila (Orgil) atau orang dengan gangguan mental serius, yang ada di setiap sudut kota, tak terkecuali di Cirebon membuat wajah kota terkesan kumuh. Karena orang dengan gangguan mental tersebut keberadaannya tersebar dimana-mana tinggal di tempat-tempat kumuh dan berkeliaran di jalan, bahkan sebagian warga merasa takut jika bertemu mereka.

Keberadaan orang-orang dengan gangguan mental tersebut tidak pernah diinginkan karena dianggap mengganggu pemandangan, pemerintah pun dibuat repot karenanya. Hingga kini belum ada solusi ampuh untuk mengatasi persoalan tersebut.

Namun, masalah ini sepertinya akan segera teratasi yaitu dengan hadirnya “Rumah Pemulihan”. “Rumah” yang berlokasi di RT 01 RW 02 Desa Pasindangan Kecamatan Gunung Jati Kabupaten Cirebon, didirikan sejak empat bulan lalu sudah menampung 12 orang dengan gangguan mental serius, dimana 7 orang berhasil disembuhkan, 3 orang melarikan diri, dan 2 orang masih tinggal di Rumah.

Rumah Pemulihan sendiri luasnya sekitar 150 meter persegi, memiliki tiga kamar tidur, ruang tamu lengkap dengan televisi ukuran 14 inchi, satu kamar mandi, dapur, dan halaman, semuanya dengan kondisi yang sederhana.

Pengasuh Rumah Pemulihan Cirebon Jhoni Luinesi (30 tahun) mengatakan, Rumah Pemulihan didirikan untuk menampung orang gila yang berkeliaran di jalan-jalan sekaligus menyembuhkannya.

“Kita ambil orang-orang gila di pinggir-pinggir jalan,” tutur Jhoni, ditemui di Rumah Pemulihan Cirebon, Rabu (15/10).

Jhoni melanjutkan, sebelum dibawa ke Rumah, orgil yang ditemuinya ditawari makan dan diajak jalan-jalan, sama sekali tidak ada paksaan. Sesampainya di rumah, orgil ini dimandikan, rambutnya dipangkas, kukunya digunting, dipakaikan pakaian yang layak, kemudian tinggal di satu atap dengannya.

“Saya tidak paksa mereka, kalau mereka tidak mau kita kembalikan,” katanya.

Ia mengaku, untuk menyembuhkan para orgil tidak mengunakan obat penenag dan obat-obatan lainnya, ia hanya memberikan perhatian, berkomunikasi, berbagi, dan lainnya layaknya berinteraksi dengan orang normal pada umumnya. Proses penyembuhannya pun memakan waktu bervariasi, dari dua mingu hingga 3 bulan.

“Kita tinggal di Rumah ini seperti keluarga sendiri, tidur satu rumah, ngobrol, bercanda, dan menyiram tanaman bersama-sama,” ujarnya.

Jhoni sendiri melakukan ini semua tanpa bayaran sepeserpun, untuk kebutuhan sehari-hari ia mengandalkan donasi dari sejumlah orang yang peduli dengan Rumah Pemulihan. Sejak empat bulan lalu Rumah ini berdiri, sudah 12 orang yang ia tampung.

“Sampai sekarang kita sudah menampung 12 orang. Yang 7 sudah sembuh lalu kita antar pulang, 3 orang melarikan diri, tinggal 2 orang yang masih di sini yaitu Dani (27 tahun) dan Husein,” terangnya.

Sementara, tetangga yang tinggal bersebelahan dengan Rumah Pemulihan merasa tidak keberatan dengan kehadiran Rumah tersebut. Karena, semenjak kehadiran Rumah ini tidak ada gangguan keamanan dan kerusakan apa pun.

“Tidak masalah, lagi pula tidak mengganggu,” kata Dedi Setiadi (58 tahun) yang tempat tinggalnya berada tepat di sebelah kanan Rumah Pemulihan.

Dedi dan warga lainnya menyebut orgil yang tinggal di Rumah Pemulihan dengan panggilan “Pasien”.

“Pasiennya juga baik-baik, suka nyapa sama kita warga sini. Kalo pagi suka olah raga, bersih-bersih selokan, dan nyapu halaman,” katanya.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s