Pelabuhan Cirebon Rugi Miliaran Rupiah

Aksi warga blokir Pelbuhan Cirebon.
Aksi warga blokir Pelabuhan Cirebon.

(Suara Gratia)Cirebon – Sterilisasi area Pelabuhan Cirebon yang dilakukan Pelindo II sejak 3 Desember 2014 lalu, mengakibatkan kerugian miliaran rupiah setap harinya. Pasalnya, sekitar tujuh hari warga Pesisir Kelurahan Panjunan Kota Cirebon yang menolak sterilisasi tersebut, telah memblokir pintu masuk Pelabuhan.
Akibatnya, puluhan truk pengangkut sejumlah komoditas seperti minyak sawit, aspal cair, tepung terigu, dan batu bara tidak bisa keluar masuk area Pelabuhan.
Manager Operasional Pelindo II Cirebon, Yossianus Marciano mengatakan, sebagai contoh dari salah satu pengusaha minyak sawit saja selama tujuh hari aksi pemboliran mengalami kerugian hingga Rp 63.000.000.000
“Minyak sawit setiap hari menyalurkan 1.000 ton, dengan asumsi harga minyak sawit sebesar Rp 9 juta per ton,” ungkapnya, Selasa (16/12).
Yossi melanjutkan, pengusaha yang berinvestasi di Pelabuhan Cirebon diantaranya adalah  3 pengusaha minyak sawit, 9 pengusaha aspal curah, dan sedikitnya ada 5 pengusaha batu bara.
“Pasokan batu bara untuk pabrik di Bandung 80 persennya didistribusikan dari Pelabuhan Cirebon,” imbuhnya.
Ia menyatakan, pengorek batu bara atau grandong selalu meminta jatah kepada pengusaha batu bara, kalau tidak dikasih justru mereka meminta jatah lebih banyak lagi.
“Penggorek batu bara minta jatah antara 15 sampai 25 ton setiap harinya dari satu tongkang saja. Kalau tidak dikasih, mereka akan menjarah tongkangnya,” tandasnya.
Pihaknya berharap, aparat keamanan bisa memaklumi aturan yang berlaku di Pelabuhan Cirebon, karena Pelabuhan merupakan objek vital yang harus dijaga keamanannya.
“Aksi blokir Pelabuhan kelihatannya sudah berakhir hari ini, Selasa (16/12). Kami berharap kejadian ini tidak terulang, karena Pelabuhan termasuk objek vital yang keamanannya berbeda dengan tempat lainnya,” ujarnya.
Sementara, tokoh masyarakat Pesisir Kelurahan Panjunan Kecamatan Lemahwungkuk Kota Cirebon, Kadiro menyatakan, aksi blokir Pelabuhan bukan dilakukan oleh warga Pesisir yag sesungguhnya.
“Saya yakin warga Pesisir tidak akan melakukan aksi seperti itu, karena warga disini mematuhi aturan pemerintah. Saya menduga, aksi ini ditunggangi pihak-pihak yang mencari keuntungan semata,” katanya.
Menurut Kadiro, warga sekitar Pesisir kebanyakan berprofesi sebagai nelayan, keberadaan batu bara tidak berpengaruh sedikitpun pada mata pencarian warga. Saat ini profesi pengorek batu bara tidak hanya dilakukan warga pesisir, tapi warga dari luar Pesisir pun melakukannya.
“Penggorek batu bara kebanyakan warga pendatang, bahkan ada yang dari Losari Kabupaten Cirebon. Mereka menetap di Pesisir karena berprofesi sebagai pengorek batu bara,” pungkasnya.(Frans C. Mokal

u)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s