Pariwisata Cirebon Kurang Promosi

Sultan Sepuh ke-XIV Keraton Kasepuhan PRA Arief Natadiningrat.
Sultan Sepuh ke-XIV Keraton Kasepuhan PRA Arief Natadiningrat.

(Suara Gratia)Cirebon – Pariwisata Cirebon akan dipromosikan melalui tagline Wonderful Cirebon atau Pesona Cirebon, secara nasional maupun internasional. Karena, potensi pariwisata dinilai sangat besar namun, masih kurang dalam hal promosi dan performancenya.

Sultan Sepuh ke-XIV Keraton Kasepuhan Cirebon, PRA Arief Natadiningrat menerangkan, wisatawan mancanegara (wisman)  yang datang ke Cirebon hanya sekitar 20 ribu dalam satu tahun, wisatawan nusantara (wisnus) sebanyak 500 ribu setahun.

“Wisman yang datang ke Jakarta sekitar 30% dari nasional yakni 2,6 juta – 2,7 juta. Kalau 1% dari 2,6 juta sudah 260 ribu. Di Bandung, tetangga sebelah Cirebon wismannya di atas 200 ribu. Artinya, potensi Cirebon sebesar ini belum banyak diketahui, baik dari domestiknya karena wisnusnya jarang, apalagi internasional,” ungkapnya, saat menghadiri upacara tradisi Panjang Jimat sebagai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Kasepuhan Cirebon, Sabtu (3/1) malam.

Potensi wisata Cirebon sendiri berkaitan dengan kebudayaan yang berbasis agama/religi, salah satunya adalah, tradisi Panjang Jimat. Selain memiliki nilai-nilai sosial dan kultural, diharapkan juga bernilai ekonomis, bisa dalam bentuk ekonomi kratif dan rekreasi.

Arief menyebutkan, tiga besar potensi ekonomi kreatif telah dimiliki Cirebon, masing-masing kuliner, fashion (batik), dan craft. Karena itu, lanjut dia, Kementerian pariwisata akan membantu promosi wisata Cirebon, baik dari kreasi maupun rekreasinya.

“Alhamdulillah Kementerian Pariwisata akan membantu mempromosikan potensi wisata di Cirebon. Kita telah menyepakati akan menggunakan tagline Wonderful Cirebon atau Pesona Cirebon. Tagline ini disamakan dengan tagline wisata nasional yakni Wonderful Indonesia agar wisata Cirebon mendunia,” katanya.

Dia pun mengingatkan kepala daerah di Wilayah Cirebon untuk menjadikan pariwisata, dalam hal ini industri pariwisata, sebagai leading sector program pemerintahan masing-masing.

Karena, selama ini, kepala daerah rata-rata menempatkan pariwisata sebagai program kedua atau ketiga, biasanya setelah manufacturing.

Dia menegaskan, paradoks pariwisata berbeda dengan bidang lain di mana semakin kebudayaan dilestarikan, justru semakin laku. Begitu juga dengan rekreasi. Sehingga, pelestarian kebudayaan pada gilirannya akan menyejahterakan.

Sultan menambahkan, tradisi Panjang Jimat digelar sebagai puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW setiap tahun. Setiap tahun, setidaknya 100 ribu orang per hari mendatangi Keraton Kasepuhan jelang Panjang Jimat.

“Jumlah pengunjung meningkat signifikan pada Panjang Jimat, terlebih saat ini berbarengan dengan libur sekolah, natal, dan tahun baru,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Panjang Jimat berasal dari kata sing siji kang dirumat atau satu yang dijaga yakni syahadat. Tradisi ini melibatkan seluruh abdi dalem maupun wargi kesultanan yang tersebar di berbagai daerah, hingga penggunaan benda-benda pusaka seperti keris, piring, guci, yang diisi makanan simbolis di antaranya nasi rasul air serbat, dan lainnya.

Tradisi ini, dimulai dari Bangsal Prabayaksa berakhir di Langgar Agung Keraton Kasepuhan berupa pembacaan Kitab Barjanzi dan marhabanan.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s