Ribuan Warga Kota Cirebon Menderita IMS

Sekretaris KPA Kota Cirebon, Sri Maryati.
Sekretaris KPA Kota Cirebon, Sri Maryati.

(Suara Gratia)Cirebon – Sedikitnya 1.102 warga Kota Cirebon terdeteksi menderita penyakit infeksi menular seksual (IMS) seperti sifilis atau raja singa, kencing nanah (gonorhoe), dan lainnya. Dengan jumlah sebanyak itu, berarti rata-rata setiap 340 warga Kota Cirebon, yang berjumlah 340.000 jiwa, ada satu warga penderita IMS.
Berdasarkan data yang dimiliki Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Cirebon, dari jumlah penderita sebanyak itu, dua diantaranya tercatat sebagai siswa SMP kelas I dan II, yang tinggal di daerah pinggiran Kota Cirebon.
“Jumlah itu dipastikan bukan jumlah sesungguhnya, karena seperti halnya HIV-AIDS, penderita IMS juga seperti fenomena gunung es,” ungkap Sekretaris KPA Kota Cirebon Sri Maryati, Rabu (25/2).
Menurut Sri, IMS merupakan penyakit yang ditularkan melalui kontak seksual. Sehingga dipastikan tertularnya kedua pelajar SMP tersebut, karena melakukan kontak seksual dengan WTS.
Ia melanjutkan, pelaksanaan pengecekan atau tes deteksi IMS memang tidak dilakukan di sekolah, tetapi dilakukan di lokasi yang sering dijadikan tempat nongkrong di titik yang dinilai potensial.
“Di lokasi yang terdeteksi ada siswa SMP yang tertular IMS, berdasarkan catatan kami ada sejumlah pekerja seks komersial yang sudah cukup umur, sehingga tarif mereka sangat murah Rp 15.000 sampai Rp 20.000. Nilai uang sebesar itu sangat terjangkau oleh uang jajan anak,” ujarnya.
Sri Maryati berharap kepada orang tua untuk lebih memperhatikan pergaulan dan keseharian anak.
“Ini masalah kita bersama,” katanya.
Sementara, Kabid Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Cirebon R Agus Setiadiningrat mengakui pihaknya sudah mendapatkan laporan soal adanya siswa SMP yang mengidap penyakit IMS.
“Memang laporan yang kami terima hanya sekedar lisan, bukan tertulis. Bagi kami kabar itu, tentu sangat mengejutkan sekaligus memprihatinkan,” katanya.
Keprihatinan itulah yang membuat pihaknya, meminta sekolah-sekolah untuk lebih memperhatikan pembinaan mental dan kepribadian kepada anak didiknya.
Agus sendiri menilai, anak yang tertular IMS hanyalah korban dari pergaulan.
“Makanya kami tidak mengambil sikap untuk mengeluarkan mereka, tetapi harus lebih dibina,” ucapnya.
Selain itu, Agus juga meminta kepada orang tua untuk lebih memperhatikan pergaulan dan keseharian anak.
Begitu juga lingkungan masyarakat dan seluruh warga untuk saling menjaga dan mengingatkan satu sama lain.
“Ini bukan hanya masalah Dinas Pendidikan tetapi masalah kita bersama,” katanya.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s