Kurang Anggaran Pemkot Cirebon Tak Berkutik Tangani Gepeng

Gelandangan tengah berteduh di pinggiran Sungai Sukalila Kota Cirebon.
Gelandangan tengah berteduh di pinggiran Sungai Sukalila Kota Cirebon.

(Suara Gratia)Cirebon – Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi dinilai tutup mata atas maraknya gelandangan dan pengemis (gepeng) yang berkeliaran, di sejumlah titik di Kota Cirebon.
Titik-titik berkeliarannya gelandangan dan pengemis, terutama di perempatan jalan dan kawasan pemukiman.
Menurut Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Cirebon Andi Armawan, selama ini dinas terkait sepertinya membiarkan saja kondisi itu.
Karena tidak ada upaya apa pun untuk menertibkan gepeng yang banyak terlihat di sejumlah titik, akhirnya Satpol PP yang melakukan razia.
“Padahal tupoksi Satpol PP kan penegakan Perda. Namun karena ada kewajiban menjaga ketertiban juga, terpaksa kami menertibkan para gelandangan dan pengemis,” tukasnya.
Namun setiap kali Satuan Polisi Pamong Praja melakukan razia gelandangan dan pengemis, tidak ada upaya apa pun dari dinas terkait.
“Setelah dirazia, paling-paling kami data dan lakukan pembinaan, setelah itu dilepaskan kembali,” kata Andi Armawan.
Sehingga, katanya, tidak ada efek jera, karena setiap kali dirazia, hanya dilakukan pendataan, setelah itu dilepaskan kembali.
Menurutnya, rata-rata setiap kali razia, sedikitnya 9 sampai 11 gelandangan dan pengemis berhasil dirazia.
“Razia kami lakukan paling banyak 3 kali seminggu, atau minimal sekali seminggu,” jelasnya.
Andi berharap, dinas terkait bisa melaksanakan tupoksinya, sehingga Satpol PP bisa fokus kepada tupoksinya yakni penegakan Perda.
Sementara, Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Cirebon Ferdinan Wiyoto, ketika dikonfirmasi tidak membantahnya.
Namun menurutnya, hal itu bukan karena pihaknya tutup mata, tetapi lebih dikarenakan Dinsosnakertrans tidak memiliki anggaran untuk menangani gelandangan dan pengemis.
“Anggaran untuk penanganan gelandangan dan pengemis memang tidak ada. Kalaupun ada, yaitu program pembinaan kepada anak jalanan, namun itupun anggarannya kecil, sehingga jumlah anak jalanan yang dibina juga tidak banyak,” katanya.
Dikatakannya, selain tidak ada anggaran, Dinsosnakertrans juga tidak memiliki sumber daya manusia dan sarana untuk membina gelandangan dan pengemis.
“Kalau memang anggaran dan SDM tidak ada, gimana mau menanganinya,” tukasnya.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s