Tingkatkan Produktifitas Pertanian, BMKG Latih Petani Cirebon Mengenal Iklim

Petani di Kecamatan Lemahabang menanam padi dengan sistem Jajar Legowo.
Petani di Kecamatan Lemahabang menanam padi dengan sistem Jajar Legowo.

(Suara gratia)Cirebon – Sedikitnya 25 petani di Desa Leuwidingding, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, memperoleh pelatihan mengenai iklim melalui Sekolah Lapangan Iklim (SLI) Tahap 3 Jawa Barat.
Dengan mengenal iklim, diharapkan produksi padi meningkat dari sebelumnya. Pengenalan iklim bagi petani dilakukan dengan menggunakan alat ukur curah hujan (ombrometer).
“Mereka diajari soal iklim dan menyesuaikan diri kegiatan menanam dengan iklim karena iklim kan tak bisa diperkirakan. Berbeda dengan tanah, bibit, pupuk, yang kondisinya subur dan tersedia,” jelas Deputi Bidang Klimatologi BMKG Widada Sulistia, Jumat 17/4.
Pelatihan bagi petani merupakan tahap tiga dari tiga tahap yang diagendakan dalam kegiatan tersebut. Sebelum praktik langsung dengan petani, sebelumnya dilakukan pemahaman tentang iklim kepada instansi pemerintah terkait se-Jabar maupun kota/kabupaten serta melatih para penyuluh pertanian.
Dikatakannya, saat ini sudah ada sekitar 500 penyuluh pertanian se-Jabar yang memperoleh pendidikan mengenai iklim. Untuk ombrometer sendiri, BMKG sudah memasang di sekitar 800 titik se-Jabar, yang diletakkan pada sawah-sawah warga.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Bogor Dedi Sucahyono Sosaidi mengungkapkan, dari jumlah ombrometer tersebut sekitar 600 unit di antaranya aktif dan sisanya rusak. Khusus di Kabupaten Cirebon sendiri, terdapat sekitar 30 unit ombrometer, salah satunya di Desa Leuwidingding.
“Rata-rata ombrometer yang dipasang masih manual. Ada pula yang digital, tapi jumlahnya tak banyak, termasuk di Leuwidingding ini,” ujar dia.
Melalui sekolah iklim inilah, petani di Kecamatan Lemahabang ditarget meningkatkan produksi padi dari sebelumnya sekitar 5 ton/ha menjadi 8 ton/ha. Para petani sendiri dibagi dalam empat kelompok dan mengikuti sekolah iklim sepuluh hari sekali.
Kegiatan diisi dengan melakukan pengamatan maupun diskusi bersama penyuluh pertanian dari BP3K dan BMKG, didampingi babinsa. Di Kabupaten Cirebon, lanjut dia, sekolah iklim ini merupakan yang pertama.
Sementara itu, Kepala BP3K Kecamatan Lemahabang Suparso menerangkan, ombrometer telah dipasang sejak 2013 dan bermanfaat mengetahui iklim. Saat ini, para petani di Desa Leuwidingding sendiri tengah mencoba menggunakan sistem tandur (tanam) jajar legowo 2.
Sistem Itu, berupa sistem optimalisasi radiasi matahari yang akan mempengaruhi produksi tanaman. Pada sistem ini, padi ditanam dengan jarak 30x15x50 cm.
“Ini juga berpengaruh pada kendali populasi hama, karena kelembabannya stabil,” imbuhnya.
Di Kecamatan Lemahabang sendiri diketahui total lahan tanam seluas 440 hektar.
Kuwu Leuwidingding Ono Suwaryono menyebutkan, penggunaan bibit pada sistem legowo jajar 2 yang berpatokan pada pengetahuan mengenai iklim, lebih banyak 10% dibanding sistem tanam lain. Namun hasilnya seimbang.
“Tapi kendalanya, membiasakan perilaku petani. Rata-rata mereka terbiasa dengan sistem tanam sebelumnya dan enggan mengubah,” tutur dia.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s