AIPGI Serap Garam di Cirebon dan Indramayu

Pertemuan petani garam Kabupaten Cirebon dan Indramayu.
Pertemuan petani garam Kabupaten Cirebon dan Indramayu.

(Suara Gratia)Cirebon – Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) mulai menyisir sentra produksi garam di Jawa Barat yang ada di 2 kabupaten yaitu Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Indramayu untuk penyerapan garam rakyat.
Sekretaris Umum AIPGI Cucu Sutara mengatakan rencana penyerapan garam hingga Juni 2015 oleh kalangan pengusaha anggota AIPGI sebanyak 280.000 ton karena pihaknya banyak mendengar dari pemberitaan di media massa bahwa stok garam lokal masih banyak.
Dia menuturkan sebelum berkunjung ke Jabar, AIPGI sebelumnya juga melakukan penyerapan garam lokal di Madura dan Rembang karena mendengar kabar ada stok garam yang hingga sekarang tidak terserap pasar.
“Katanya di Rembang ada stok garam 75.000 ton, setelah kami turun bertemu langsung dengan petani ternyata yang ada dan siap dijual hanya 5.000 ton,” katanya saat menggelar pertemuan bersama sejumlah petani garam Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Indramayu, Selasa (28/4).
Cucu mengungkapkan kabar adanya stok garam yang tidak terserap juga terdengar dari Jabar tepatnya dari Kabupaten Indramayu, maka dari itu AIPGI membawa anggotanya untuk bertemu langsung dengan petani garam yang memiliki stok garam.
“Kami para pengguna garam yang biasa impor garam kerap jadi kambing hitam bertumpuknya stok garam lokal, maka sekarang kami turun untuk melakukan penyerapan,” ujarnya.
Cucu menambahkan selama ini di Jabar hanya ada 1 perusahaan yang bisa menyerap garam lokal dan itupun jumlahnya terbatas, dan untuk penyerapan kali ini anggota AIPGI yang perusahaannya di luar (Jabar) juga bakal ikut membantu penyerapan di Jabar.
“AIPGI langsung bentuk tim atau koordinator di tiap kecamatan sentra produksi garam di Cirebon dan Indramayu untuk mendata stok garam yang siap diserap,” tambahnya.
Pada saat yang sama, Karsono salah satu petani garam di Kabupaten Cirebon menyatakan kehadiran AIPGI kali ini bisa dibilang kurang tepat karena petani sedang tidak produksi, padahal penyerapan garam idealnya saat panen raya.
“Jika komitmen penyerapannya berlanjut oleh AIPGI kami para petani sangat mendukung karena selama ini petani kesulitan jual garam saat panen raya,” tuturnya.
Kabid Kemitraan Petani AIPGI Korwil Jabar Sugiarto Wijaya menjelaskan ada banyak hal yang membuat kalangan pengusaha bermitra dengan petani lokal, antara lain sulitnya mencari titik temu standar kulitas garam sehingga berdampak pada sulitnya penetapan harga.
“Ada juga kultur petani yang biasanya sengaja menyimpan garam hingga musim produksi dimulai untuk modal usaha musim berikutnya,” paparnya.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s