Idul Adha, Keraton Kasepuhan Bunyikan Gamelan Sekaten

Sultan Sepuh ke-XIV PRA. Arief Natadiningrat bersama dengan Nayaga yang tengah memainkan Gamelan Sekaten di Siti Inggil Keraton Kasepuhan Cirebon.

Sultan Sepuh ke-XIV PRA. Arief Natadiningrat, bersama dengan Nayaga yang memainkan Gamelan Sekaten di Siti Inggil Keraton Kasepuhan Cirebon.

(Suara Gratia)Cirebon – Keraton Kasepuhan Cirebon memainkan gamelan sekaten di bangunan Siti Inggil. Gamelan yang sudah berumur 600 tahun itu dibunyikan atau dimainkan hanya pada waktu-waktu tertentu saja yakni dua kali dalam satu tahun (Saat Hari raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha). Gamelan Sekaten merupakan seperangkat alat musik tradisional khas Cirebon yang terdiri dari Bonang, Bedug, Saron, Ecekebres, Jengglong, dan Gong. Dimainkan oleh delapan orang Nayaga atau pemain musik Gamelan Sekaten.

Sultan Sepuh Ke-XIV PRA. Arief Natadiningrat, mengatakan, dahulu Gamelan Sekaten digunakan oleh Sunan Gunung Jati untuk menyebarkan agama Islam di Cirebon, Gamelan buatan Demak ini sudah ada di Keraton Kasepuhan dan dimainkan hingga kini sejak 600 tahun lalu.

“Gamelan Sekaten dimainkan dua kali dalam satu tahun, saat Idul Fitri dan Idul Adha. Dimainkan sejak pukul 08.00 WIB sampai pukul 11.00 WIB, di Siti Inggil yakni bangunan yang berada di bagian depan Keraton Kasepuhan Cirebon,” terangnya, Kamis 24/9.

Sultan Arief melanjutkan, selain membunyikan Gamelan Sekaten, Idul Adha di Keraton Kasepuhan dirayakan dengan sholat ied bersama keluarga Keraton dan warga, mengeluarkan tongkat kotbah Sunan Gunung Jati, hajat masakan ke makam Sunan Gunung Jati, dan dilanjutkan dengan pemotongan hewan kurban di halaman Keraton Kasepuhan Cirebon.

Juru Kunci Dalem Agung Keraton Kasepuhan Cirebon, Encu Surasa (67 Tahun) mengatakan, Gamelan Sekaten dimainkan oleh Nayaga atau orang yang memainkan Gamelan, memiliki laras yang berbeda dengan laras Pelog dan Slendro.

“Ada empat laras yang dimainkan yaitu laras Sekaten, laras Bango Butak, laras Rambon, dan laras Kodok Ngorek,” ujarnya. Nayag sendiri adalah, orang-orang tertentu yang ditunjuk pihak Keraton untuk memainkan Gamelan Sekaten, hingga kini hanya keturunannyalah yang dapat memainkan Gamelan ini.(Frans C. Mokalu)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s