Tol Cipali Belum Membawa Berkah Bagi Biro Travel di Cirebon

Antrian kendaraan di salah satu pintu Tol Cipali.
Antrian kendaraan di salah satu pintu Tol Cipali.

(Suara Gratia)Cirebon – Keberadaan Tol Cikampek-Palimanan (Cipali) hingga kini belum berdampak banyak bagi puluhan biro tour and travel di Wilayah Cirebon. Di Cirebon sendiri, setidaknya ada 27 biro tour and travel. Meski akses Jakarta-Cirebon kini dianggap lebih mudah dengan keberadaan Tol Cipali, permintaan wisatawan luar daerah terhadap biro tour and travel asal Cirebon justru mengalami penurunan. Mereka masih kalah saing dibanding biro tur dan perjalanan dari luar kota, khususnya Jakarta.

” Biro tour and travel dari Jakarta sampai sekarang masih lebih dominan ketimbang biro tour and travel dari Cirebon, order dari luar daerah Cirebon turun sekitar 30%,” ungkap pengurus Gabungan Pengusaha Tour and Travel (Gapitt) Wilayah Cirebon, Roni Agus Bahtiar, Senin 28/9.

Roni mengatakan, dari segi wisata, Wilayah Cirebon memiliki potensi besar. Batik dan kuliner merupakan wisata yang hingga kini mendominasi minat wisatawan luar kota.

Menurutnya, kebanyakan biro tour and travel Cirebon memilih menunggu bola daripada membuat konsep yang mengundang ketertarikan wisatawan luar daerah untuk datang ke Cirebon.

Pihaknya pun di sisi lain menyayangkan masih kerap dijumpainya hal-hal yang mengecewakan wisatawan luar daerah pada tempat wisata yang mereka datangi. Semisal, lanjutnya, banyaknya peminta-minta di komplek Makam Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon.

“Banyak tamu yang akhirnya komplain kepada kami karena peminta-minta di sana banyak, setelah memberi yang satu ada lagi peminta lain yang datang. Apalagi terkadang mereka seolah dipaksa untuk memberi,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga memandang perlu adanya pembenahan pada fasilitas-fasilitas di tempat-tempat wisata di Cirebon agar lebih memadai. Dia mencontohkan, ketersediaan lahan parkir pada tempat wisata sebaiknya lebih diperhatikan. Terkadang, lahan parkir yang disediakan kerap tak menunjang sehingga memacetkan lingkungan sekitar objek yang mereka datangi.

“Kami harap para pengelola tempat wisata lebih serius mengelola asetnya agar tidak mengecewakan wisatawan, bahkan sampai berdampak pada sikap kapok datang ke Cirebon,” imbuhnya.

Di luar itu, pihaknya melihat tak sedikit wisatawan yang menghendaki Balai Kota Cirebon dibuka sebagai objek wisata umum. Secara keseluruhan, menurutnya, untuk meningkatkan pasar wisata Cirebon lebih tepat apabila pengelola tempat wisata memiliki program acara secara periodik, semisal satu minggu sekali.

“Kami punya pasar dengan mendatangkan pengunjung ke tempat-tempat wisata yang punya program itu. Pengelola tempat wisata tinggal kerjasama dengan kami sebagai biro tour and travel,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Humas dan Protokol pada Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon Maruf Nuryasa mengapresiasi masukan Gapitt untuk menjadikan Balai Kota Cirebon sebagai objek wisata umum. Menurutnya, balai kota memiliki daya jual mengingat bangunannya merupakan bangunan kuno peninggalan Belanda.

“Bisa saja karena balai kota punya nilai jual. Malah kami terbayang, kalau dijadikan objek wisata umum akan dihiasi lampu-lampu sorot berwarna-warni,” tuturnya.

Hanya, lanjutnya, untuk itu dibutuhkan dulu perubahan areal balai kota yang lebih baik dan memadai. Sejauh ini, areal balai kota secara keseluruhan dipandang belum cukup memadai dan apik secara estetika.(Frans C. Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s