Musim Paceklik Kriminalitas di Cirebon Meningkat

Kapolres Cirebon Kabupaten AKBP Sugeng Hariyanto (tengah) bersama jajarannya saat gelar perkara aksi kriminal di Polres Cirebon Kabupaten.

Kapolres Cirebon Kabupaten AKBP Sugeng Hariyanto (tengah) bersama jajarannya saat gelar perkara aksi kriminal.

(Suara Gratia)Cirebon – Aksi pencurian dengan kekerasan (curas) mendominasi tindak kriminal di Kabupaten Cirebon. Pelaku yang tergolong nekat tidak segan-segan melukai korbannya bahkan menghilangkan nyawa korban. Kesulitan ekonomi merupakan penyebab terbesar pelaku untuk melancarkan aksi kejahatan.
Kapolres Cirebon AKBP Sugeng Hariyanto kemarin menyatakan, kejahatan erat hubungannya dengan kebutuhan ekonomi. Musim paceklik menjadi waktu dimana setiap orang mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Paceklik membuat masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan, akhirnya mereka memilih jalur kriminal. Curas dan pencabulan anak paling banyak terjadi di wilayah hukum Polres Cirebon,” ungkapnya saat gelar perkara di Mapolres Sumber, Kabupaten Cirebon, Selasa 17/11.
Dalam gelar perkara itu, setidaknya tercatat 18 laporan perkara dengan menghadirkan 44 tersangka. Ke-44 tersangka tersebut di antaranya terlibat curas.
“Tindak curas tak sedikit yang melibatkan penggunaan senjata tajam. Bahkan, pelaku sanggup menghilangkan nyawa korbannya,” kata Sugeng.
Ia melanjutkan, aksi curas tidak lepas dari penggunaan obat-obatan terlarang sehingga pelaku hilang akal sehatnya.
“Desakan kebutuhan ekonomi menjadi alasan utama para pelaku kejahatan, khususnya curas,” imbuhnya.
Selain curas, kejahatan lain yang mendominasi di wilayah hukum Polres Cirebon Kabupaten adalah pencabulan anak.
“Untuk menekan angka kriminalitas, kami tetap melakukan upaya preventif hingga represif, salah satunya melakukan patroli rutin,” ujarnya.
Sementara, Kasat Reskrim Polres Cirebon AKP Jarot Sungkowo menyebutkan, pelaku curas tidak pandang bulu dalam memilih korbannya, namun pihak yang lemah dan lengah dalah sasaran utamanya.
“Musim kemarau rentan terjadi aksi kriminal karena sedang pacelik. Sayangnya, anak-anak putus sekolah banyak yang menjadi pelaku curas. Mereka tidak segan-segan melukai bahkan menghilangkan nyawa korbannya,” katanya.
Dia mengemukakan, untuk meminimalisir aksi kejahatan yang dilakukan para remaja pihaknya seringkali melakukan razia ke sekolah-sekolah. Namun, razia semacam itu di sisi lain menimbulkan dilema.
“Kami tak ingin razia bikin siswa jadi trauma,” ungkapnya.(Frans C Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s