Jurnalis Cirebon Dilatih Membatik

Sejumlah awak media tengah membuat batik di Pusat Belanja Batik Trusmi Cirebon.
Sejumlah awak media tengah membuat batik di Pusat Belanja Batik Trusmi Cirebon.

(Suara Gratia)Cirebon – Pusat Belanja Batik Trusmi Cirebon memberikan kesempatan awak media membatik. Sejumlah jurnalis media cetak dan elektronik yang bertugas di wilayah Cirebon menumpahkan kreasi seni mereka dalam hal membatik di halaman belakang Batik Trusmi, Minggu 3/1.
Kesulitan membatik merupakan pengalaman tersendiri bagi wartawan, karena walaupun kerap melakukan liputan mengenai ‘Batik’ baru kali ini mereka¬†menjajal langsung membuat pola di selembar kain dengan canting. Panasnya malam yang menetes di kulit tangan akibat kurang piawai memainkan canting di atas kain, mencium aroma aneh dari proses pembuatan batik, dan sensasi lainnya sangat dinikmati oleh puluhan jurnalis dalam membuat batik.

Namun, owner Pusat Belanja Batik Trusmi Ibnu Riyanto tidak hanya tersenyum geli melihat tingkah jurnalis yang kesulitan membuat batik. Ia beserta istri Sally Giovani, sesekali memberikan arahan kepada jurnalis agar hasil akhirnya sempurna.
Ibnu Riyanto mengatakan, wartawan dari media cetak dan elektronik Cirebon, diundang secara khusus untuk merasakan langsung proses pembuatan batik dengan diberi kesempatan membuat batik sendiri.
“Kami siapkan alat-alat pembuatan batik. Teman-teman wartawan bisa mencoba membuat batik sendiri sesuai dengan kreasi mereka,” ujarnya, Minggu 3/1.
Ibnu melanjutkan, kegiatan membatik bertujuan untuk memperkenalkan proses pembuatan batik kepada awak media agar mereka lebih baik lagi dalam membuat tulisan mengenai batik.
“Selain untuk membantu kawan-kawan media dalam membuat tulisan. Kami ingin batik menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia dan Cirebon khususnya,” imbuhnya.
Menurutnya, industri batik di tanah air kalau tidak ada regenerasi lama-kelamaan akan punah karena tidak ada lagi masyarakat yang memiiki keahlian membuat batik. Selain itu, anak-anak muda lebih memilih menjadi karyawan sebuah perusahaan atau menggeluti bisnis lain, karena usaha batik dianggap tidak menguntungkan.
“Perajin batik sulit untuk melakukan regenerasi, karena anak-anak mereka enggan menggeluti usaha batik. Hingga saat ini usaha batik dianggap tidak menguntungkan, padahal kalau dijalani secara serius usaha ini tidak kalah dengan bidang lainnya,” teragnya.
Oleh karena itu, Ibnu dan istrinya dengan gencar melakukan sejumlah pelatihan kepada pelajar, mahasiswa, ibu-ibu arisan, termasuk wartawan agar usaha batik tetap eksis dan diminati sebagai bisnis yang menguntungkan.
“Semoga dengan pelatihan ini batik semakin dikenal dan dicintai masyarakat,” katanya.(Frans C Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s