Di Hari Valentine Komunitas Konservasi Satwa Lepaskan Tukik Belawa

Kordinator Komunitas Konservasi Satwa, Panji (kanan) dan Kuwu Desa Belawa (kedua dari kanan) melepaskan tukik di kolam pembesaran Objek Wisata Kura-kura Belawa.

Kordinator Komunitas Konservasi Satwa, Panji (kanan) dan Kuwu Desa Belawa (kedua dari kanan) melepaskan tukik di kolam pembesaran Objek Wisata Kura-kura Belawa.

(Suara Gratia)Cirebon – Valentine Day atau hari kasih sayang yang jatuh setiap 14 Februari identik dengan ungkapan kasih sayang kepada orang yang dikasihi. Ungkapan kasih sayang itu ditunjukkan dengan membrikan coklat atau bunga.
Namun, sesuatu yang sangat kontras dilakukan oleh Komunitas Konservasi Satwa Cirebon. Alih-alih memberikan bunga atau coklat kepada sang kekasih mereka malah melepaskan tukik (anak kura-kura) di Objek Wisata Belawa, Desa Belawa Kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon.

Kura-kura Belawa memang tergolong hewan yang membutuhkan perhatian lebih, karena keberadaanya semakin terancam dan kondisi penangkarannya pun apa adanya. Kura-kura Belawa adalah salah satu jenis kura-kura yang hanya bisa ditemui di Desa Belawa memiliki leher panjang dan punggungnya menyerupai punggung manusia.
Menurut, Kordinator Komunitas Konservasi Satwa Cirebon, wujud kasih sayang tidak hanya ditujukkan kepada orang-orang yang dikasihi saja namun, hewan-hewan yang hampir punah pun butuh perhatian dan kasih sayang.
“Kura-kura Belawa hanya hidup di Desa Belawa, mereka membutuhkan perhatian khusus agar tidak punah,” katanya, Minggu 15/2.
Sedikitnya 50 ekor tukik dilepaskan di kolam pembesaran, setelah ditelurkan oleh induknya di kolam penangkaran.
“Kita melepas 50 ekor tukik yang sudah berumur dua bulan ke kolam pembesaran, sebagai wujud kasih sayang kami kepada hewan,” imbuhnya.
Sementara, pengurus objek Wisata Belawa, Kusna mengatakan, kura-kura belawa rentan terkena penyakit ganas yang menggerogoti anggota tubuh kura-kura. Sampai sekarang jenis penyakit ini tidak diketahui namanya namun Kusna menyebutnya dengan ‘Virus’.
“Kura-kura Belawa yang mati kena virus ada 198 ekor kura-kura dewasa. Sekarang tinggal 200 ekor kura-kura dewasa umurnya diatas 5 tahun dan kura-kura yang umurnya 1 tahun,” terangnya.
Satu kali bertelur Kura-kura Belawa menghasilkan sebanyak 6 butir telur, sementara musim bertelur pada bulan Juni hinnga Desember.
“Sekali bertelur paling ada enam butir. Selama kurang lebih dua minggu baru menetas,” kata Kusna.
Kepala Desa Belawa, Kamon Haryanto, menyambut baik aksi konservasi ini. Karena menurutnya, objek Wisata Belawa membutuhkan perhatian khusus mengingat jumlah kura-kura yang semakin menyusut karena virus dan dana untuk operasionalnya pun terbatas.
“Kami ucapkan terima kasih atas kepedulian dari anak-anak muda ini. Semoga dengan kegiatan ini objek Wisata Belawa semakin terkenal dan banyak orang yang peduli dengan kelestariannya,” katanya.(Frans C Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s