Kesbangpol Kota Cirebon Datangi Kediaman ‘Raja Terakhir’

Kepala Kesbangpol Kota Cirebon Tata Kurniasasmita (kiri) saat mengunjungi kediaman Hasanudin(kedua dari kiri) yang mengklaim dirinya sebagai Kepala Adat Besar Purwaka Caruban Nagari Kerajaan Cirebon.
Kepala Kesbangpol Kota Cirebon Tata Kurniasasmita (kiri) saat mengunjungi kediaman Hasanudin(kedua dari kiri) yang mengklaim dirinya sebagai Kepala Adat Besar Purwaka Caruban Nagari Kerajaan Cirebon.

(Suara Gratia)Cirebon – Jajaran Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Cirebon mendatangi kediaman ‘MA’ Jumat 26/2. Belakangan ‘MA’ mengklaim dirinya sebagai ‘Raja Terakhir atau Raja Nusantara’ dan memiliki ribuan pengikut di wilayah III Cirebon (Kota/Kabupaten Cirebon, Majalengka, Kuningan, Indramayu). Ia juga mengaku diamanatkan Maharaja Kutai Mulawarman untuk menyejahterakan masyarakat Indonesia.

Nama lengkap dan gelarnya adalah Sri Baginda Raja Muhammad Abdullah Hasanudin. Jabatannya Kepala Adat Besar Purwaka Caruban Nagari Kerajaan Cirebon. Gelar ini tercantum dalam Maklumat Kepala Adat Besar Republik Indonesia dengan kepala surat Lembaga Adat Besar Republik Indonesia (LAB-RI).
Dalam maklumat itu, MA alias Hasanudin tercatat sebagai warga Kelurahan Limusnunggal, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor. Maklumat tersebut menyatakan dirinya mendapat amanat dari Maharaja Srinala Praditha Alpiansyahrechza F W yakni, Maharaja Kutai Mulawarman dengan jabatan Kepala Adat Besar Republik Indonesia.
“Saya ditunjuk sebagai Raja Awal-Akhir untuk kesejahteraan umat nusa bangsa,” ungkapnya didampingi sejumlah pengikutnya saat ditemui di kediamannya di Gang Sigaran, Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi Kota Cirebon, Jumat 26/2. Hasanudin juga mengklaim dirinya sebagai keturunan Keraton Kanoman Cirebon.
Menurutnya, para pengikutnya itu merupakan perpanjangan tangan yang direkrut demi menyukseskan misinya menyejahterakan umat.
“Misi kami menyatukan seluruh kerajaan di Indonesia,” katanya.
Sementara itu, Kepala Kesbangpol Kota Cirebon Tata Kurniasasmita menyatakan, LAB-RI merupakan lembaga adat yang tak menganggu birokrasi dan tatanan kesultanan, khususnya Cirebon. Mengenai surat-surat yang diklaim Hasanudin sebagai legalitas kegiatannya, dia mengatakan, belum menyelidiki keabsahannya.
“Kami belum selidiki, tapi akan kami teliti keabsahannya,” tegasnya.
Dia meyakinkan, sejauh ini aktivitas mereka tak mengganggu. Kegiatannya pun sejauh ini masih berupa pengajian. Namun pihaknya bersama warga sekitar akan mengkaji kemungkinan gangguan yang kelak ditimbulkan dan terus memantaunya.
“Sejauh ini kegiatan mereka tidak meresahkan. Tapi, bersama warga dan Lurah setempat akan kami pantau,” tutupnya.(Frans C Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s