KYAI MAMAN : KITAB KUNING BENTENGI NKRI DARI FAHAM AGAMA EKSKLUSIF DAN EKSTRIMIS

KH. Maman Imanulhaq, Ketua Steering Commitee (SC) Musabaqoh atau Lomba Kitab Kuning.
KH. Maman Imanulhaq, Ketua Steering Commitee (SC) Musabaqoh atau Lomba Kitab Kuning.

(Suara Gratia)Cirebon – Khazanah keilmuan pesantren terbukti telah menjadi benteng terkokoh dalam menjaga NKRI dari pemahaman keagamaan yang eksklusif dan ekstremis.
Hal itu, berkat upaya ulama dan karyanya, seperti salah satu kitab yang paling banyak dikenal dan dikaji oleh ulama dan tokoh Islam, yakni kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad alGhazaliath-ThusiAsy-Syafi’i  (Imam Al Ghozali).

Demikian diungkapkan oleh KH. Maman Imanulhaq, Ketua Steering Commitee (SC) Musabaqoh atau Lomba Kitab Kuning yang digelar oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) melalui organisasi sayapnya Garda Bangsa, Selasa 22/3.
Kyai Maman mengungkapkan, jika tradisi (al-turâts) khas atau khazanah kejiwaan (makhzun al-nafs) yang dimiliki pesantren telah melahirkan pemikiran yang progresif-transformatif dalam upaya membangun masyarakat.
“Pesantren acapkali bersifat fleksibel dan toleran sehingga jauh dari watak radikal, apalagi ekstrem dalam menyikapi masalah sosial, politik, maupun kebangsaan” , ungkap Anggota Dewan Syuro PKB itu, Selasa 22/3.
Karena punya watak dan tradisi yang fleksibel dan toleran itulah, ujar Kyai Maman, pesantren mampu menjembatani problem keotentikan dan kemodernan (musykilah al-ashalah wa al-hadatsah) secara harmonis.
“Tradisi itu harus dipertahankan agar pesantren mampu terus eksis memperjuangkan tujuan dasar Syariat Islam (maqâshid al-syari‘at), yakni menegakkan nilai dan prinsip keadilan sosial, kemaslahatan umat manusia, kerahmatan semesta, dan kearifan lokal,” terangnya.
Syariat Islam yang dimaksud, kata Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi itu, adalah yang sejalan dengan kehidupan demokrasi dan mencerminkan karakter genuine kebudayaan Indonesia sebagai alternatif dari tuntutan formalisasi Syariat Islam yang kaffah pada satu sisi, dengan keharusan menegakkan demokrasi dalam nation-state Indonesia pada sisi lain.
“Dengan modal tradisi yang fleksibel dan toleran, sejak lima ratus tahun lalu, pesantren mampu memainkan berbagai peran penting keagamaan dan kebangsaan,” pungkasnya.
Dalam kerangka menguatkan tradisi (al-turâts) khas atau khazanah kejiwaan (makhzun al-nafs) pesantren itulah, jelas Kyai Maman, sesungguhnya Musabaqoh atau Lomba Kitab Kuning digelar oleh PKB.
Musabaqoh kitab kuning sendiri akan diikuti oleh lebih dari 5.000 santri dan digelar tanggal 1-13 April 2016 di 31 pondok pesantren-pesantren legendaris yang selama ini menjadi rujukan keilmuan para ulama nusantara yang tersebar di 20 provinsi.(Frans C Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s