KH. Maman Imanulhaq: Nusantara Mengaji Sebagai Pencerahan Akal Budi

KH. Maman Imanulhaq, Ketua Steering Commitee (SC) Musabaqoh atau Lomba Kitab Kuning.

KH. Maman Imanulhaq.

(Suara Gratia)Cirebon – Gerakan Nusantara Mengaji menurut KH. Maman Imanulhaq merupakan sebuah gerakan pencerahan umat Islam Indonesia. Menurutnya, mengaji harus menjadi tradisi yang meluas dan tidak sebatas pada kewajiban menimba ilmu pada usia anak-anak dan remaja.“Partai kami (Partai Kebangkitan Bangsa-Red) menjadikan Nusantara Mengaji sebagai salah satu tujuan mengembalikan kejayaan umat Islam. Sebab dalam pandangan saya, mengaji itu identik dengan sikap ilmuwan. Islam mendudukkan ilmu dan amal setali tiga uang. Karena itu mengaji adalah kewajiban umat Islam selagi masih hidup,” terangnya, Minggu 10/4.
Kiai yang akrab dipanggil Kang Maman itu merasa optimis bahwa dengan menjadikan ngaji sebagai tradisi umat Islam akan bisa meraih kejayaan dalam bidang keilmuan, mentalitas hidup dan kedewasaan dalam berbeda pendapat. Hanya dengan mentradisikan mengaji itulah ia yakin umat Islam akan meraih pemberadaban diri dan lebih baik moralnya.
“Mengaji literatur, menulis, dan juga memahami arti perbedaan pendapat itu hanya bisa diraih dari mengaji rutin. Sebab tanpa mengaji terus, bagaimana mungkin mendapatkan pemahaman yang luas? Kebanyakan mereka yang tidak toleran itu karena sebab ilmunya dangkal akibat hanya mendapatkan ilmu secuil dari sedikit pihak. Makanya jadi doktriner,” kritiknya.
Gerakan Nusantara Mengaji menurut Kang Maman, sangat relevan digemakan karena saat ini banyak orang tidak berilmu tapi terlanjur gemar berdakwah. Parahnya lagi, kebanyakan para mubalig tidak serius belajar dan lebih mengejar tampil di panggung dengan alasan dakwah.
“Berdakwah itu juga penting. Tapi mengaji sangat penting agar kita tetap rendah hati dan mentalitas keagamaan kita kuat dibangun dari ilmu, bukan dari sikap politik,” jelasnya.
Gerakan Nusantara Mengaji menurut Pengurus Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini akan digemakan dengan mengambil momentum bulan Ramadhan tahun ini.
“Karena hal itu merupakan amanat “wahyu pertama” yang diturunkan Allah pada Rasul-Nya di bulan suci Ramadhan dan merupakan entry poin untuk memasuki seluruh ruang serta waktu, merasuki pola kebudayaan, mekanisme ekonomi, sistem politik dan seluruh aspek kehidupan yang berangkat dari ruh al-Quran sebagai sumber pandangan hidup, way of life,” jelasnya.(Frans C Mokalu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s