Kemenag Cetak Kader Kerukunan

Workshop pengembangan wadah umat beragama memperkuat kerukunan yang digagas Kemenag, di Cirebon.

Workshop pengembangan wadah umat beragama memperkuat kerukunan yang digagas Kemenag, di Cirebon.

(Suara Gratia)Cirebon – sekitar 40 orang pemuda dari berbagai Organisasi Kepemudaan (OKP) di Cirebon dilatih menjadi ‘Kader Kerukunan’. Melalui pelatihan yang digagas oleh Kementerian Keagamaan (Kemenag) RI dengan tajuk “Pengembangan Umat Beragama Memperkuat Kerukunan”, mereka diberi sejumlah materi diantaranya adalah, menangani konflik, berjejaring dengan kelompok lain, dan aktif membangun kerukunan di tengah masyarakat. Kota Cirebon merupakan kota kedua yang disambangi Kemenag setelah Yogyakarta dan selanjutnya akan diadakan di Bali, dengan masing-masing peserta sebanyak 40 orang.

Perwakilan dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Kemenag RI Agus Muhamad mengatakan, pelatihan ini merupakan salah satu cara mendeteksi, mencegah, dan menyelesaikan konflik yang terjadi di tengah masyarakat.
“Pemuda bisa hadir di tengah masyarakat bekerjasama dengan kelompok-kelompok keagamaan, tokoh masyarakat, dan organisasi kepemudaan untuk mencegah dan menyelesaikan konflik di tingkat akar rumput,” terangnya, ditemui usai workshop Pengembangan Wadah Umat Beragama Memperkuat Kerukunan di Cirebon, Kamis 28/4.
Agus menjelaskan, peserta pelatihan terdiri dari beberapa anggota OKP di Cirebon dengan rentang usia 20 sampai 35 tahun.
“Kita mencetak kader untuk membangun dan memperkuat kerukunan,” terangnya.
Ia berharap, melalui materi dalam pelatihan ini pemuda tidak mudah terpengaruh dan terprovokasi hanya karena perbedaan keyakinan, perbedaan ideologi, perbedaan latar belakang, dan lainnya.
“Kader Kerukunan harus lebih banyak mensosialisasikan kerukunan. Bisa secara individu maupun kelompok ke berbagai lembaga, organisasi kepemudaan, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan lainnya,” katanya.
Yogyakarta, Cirebon, dan Bali dipilih menjadi tempat pembentukan Kader Kerukunan, menurutnya, karena daerah itu termasuk dalam kriteria daerah yang relatif rukun, wilayah yang rawan konflik, dan daerah yang potensi konfliknya tinggi tapi belum pernah terjadi konflik.
“Jangan salah, walaupun daerah itu relatif rukun dan tidak ada potensi konflik. Jangan dikira di situ tidak akan terjdi konflik,” tutupnya.(Frans C Mokalu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s