Wujudkan KLA, Kota Cirebon Terbentur Anggaran

Tim Monitoring dan Evaluasi Lomba Kota Layak Anak Provinsi Jawa Barat tengah memberikan pemaparan mengenai KLA di Ruang Adipura Gedung Balai Kota Cirebon.

Tim Monitoring dan Evaluasi Lomba Kota Layak Anak Provinsi Jawa Barat tengah memberikan pemaparan mengenai KLA di Ruang Adipura Gedung Balai Kota Cirebon.

(Suara Gratia)Cirebon – Kota Layak Anak (KLA) di Kota Cirebon sepertinya akan sedikit terganjal. Pasalnya, untuk mewujudkan KLA, Kota Cirebon sendiri kekurangan anggaran. Namun, Wali Kota Cirebon tidak menyebutkan secara rinci berapa besaran anggaran yang dibutuhkan.

Wali Kota Cirebon Nasrudin Azis mengaku, betapa besarnya tanggung jawab Pemerintah Kota Cirebon untuk melindungi anak-anak, namun belum didukung dengan dana yang memadai.
“Sektor dana sangat penting untuk mencegah anak-anak kita menjadi korban dan pelaku kekerasan seksual,” katanya, usai menemui Tim Monitoring dan Evaluasi Lomba Kota Layak Anak Provinsi Jawa Barat di Ruang Adipura, Selasa 10/5.
Untuk menutupi kekurangan itu, pihaknya akan mengusulkan agar pagu anggaran di Dinas Pendidikan sebesar 70 persen, 20 persennya dialokasikan untuk program KLA di Kota Cirebon.
“Anggaran pendidikan saya harap tidak hanya digunakan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan bangunan fisik, namun ada juga yang dialokasikan dalam upaya perlindungan anak,” imbuhnya.
Ia menjelaskan, jumlah usia anak-anak di Kota Cirebon sebanyak 116.789 dari 82.184 keluarga, dengan pertumbuhan jumlah anak mencapai 56,3 persen per tahun.
“Itu berarti penduduk Kota Cirebon 2/3-nya termasuk usia anak-anak. KLA ini juga menjadi kebijakan strategis Kota Cirebon,” ujarnya.
Saat ini di Kota Cirebon sudah ada tiga kawasan yang sudah dijadikan KLA yakni di RW 10 dan RW 13 Kelurahan Kecapi Kecamatan Harjamukti serta SMAN 3, karena disana terdapat taman cerdas.
“Ruang bermain anak masih kurang karena keterbatasan lahan dan dana yang belum memadai. Kedepan kita akan bentuk kota ramah anak berbasis RW,” ungkapnya.
Lebih jauh Azis menambahkan, kasus kekerasan terhadap anak pelecehan seksual tidak terjadi di lingkungan sekolah, tetapi terjadi di lingkungan masyarakat.
“Orang tua baik ayah maupun ibu punya peran penting untuk memberikan pembekalan dan bimbingan agar anak kita tidak menjadi korban dan pelaku kejahatan anak,” tutupnya.(Frans C Mokalu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s