Minimalisir Peredaran Upal BI Cirebon Bermitra Dengan Pedagang Pasar

Ilustrasi mengecek keaslian uang Rupiah.

Ilustrasi mengecek keaslian uang Rupiah.

(Suara Gratia)Kuningan – Peredaran uang palsu (Upal) di Wilayah III Cirebon (Kota/Kabupaten Cirebon, Majalengka, Kuningan, Indramayu) meningkat. Peningkatan ini merata di seluruh Wilayah Cirebon, peredaran tertinggi terjadi di pasar-pasar tradisional.
Untuk meminimalisir peredaran upal ditengah masyarakat BI Cirebon rekrut pedagang pasar menjadi Mitra Sistem Pembayaran. Mitra sistem pembyaran ini telah dilatih bagaimana cara mengetahui upal, bagaimana cara melakukan pelaporan upal kepada BI, dan mengetahui modus peredarannya.“Tahap pertama sebanyak 80 orang kami rekrut. Pedagang pasar sudah kita berikan pelatihan menjadi Mitra Sistem Pembayaran,” kata Kepala KPWBI Cirebon Abdul Majid Ikram, ditemui usai menjadi pemateri dalam workshop wartawan ekonomi di Kuningan Jawa Barat, Minggu 29/5.
Ia menjelaskan, Mitra Sistem Pembayaran merupakan salah satu terobosan baru BI Cirebon untuk menekan angka peredaran upal di Wilayah Cirebon.
“Ini baru tahap pertama, kedepan akan kami rekrut lagi untuk tahap kedua, ketiga dan seterusnya. Agar semakin banyak pedagang pasar yang mengetahui upal, dia akan menularkan pengetahuan ini kepada sesama pedagang serta pembeli,” katanya.
Menurutnya, cara ini terbukti ampuh menekan peredaran uang di Wilayah III Cirebon. Hal ini dapat terlihat pada meningkatnya temuan uang palsu di Cirebon.
“Saat ini peningkatan peredaran upal tidak dipengaruhi oleh momen apapun. Lebaran, Pilkada, atau liburan tidak mempengaruhi peningkatan peredaran upal. Tetapi dipengaruhi oleh kesadaran masyarakat, karena saat ini masyarakat sudah sadar terhadap upal, jadi mereka banyak yang melapor,” ungkapnya.
Ia melanjutkan, tahun 2014 lalu Kantor KPWBI Cirebon mencatat sebanyak 7.936 lembar upal beredar di Cirebon, sedangkan hingga akhir tahun 2015 sebanyak 16.084 lembar.
“Upal di Cirebon didominasi oleh pecahan 50.000 sebanyak 9.897 lembar, berikutnya adalah pecahan 100.000 sebanyak 5.342 lembar, pecahan 20.000 ada 440 lembar, pecahan 5.000 ada 294 lembar, pecahan 10.000 ada 110 lembar, dan pecahan 2.000 ada satu lembar,” terangnya.
Sementara, Kepala Unit Pengolahan Uang BI Cirebon, Sutono mengatakan, modus peredaran upal paling banyak terjadi di pasar tradisional karena para pelaku menganggap pedagang memiliki pengetahuan yang rendah terhadap upal.
“Laporan upal di BI banyak datang dari pedagang pasar,” katanya.
Selain itu, modus peredaran upal paling banyak juga ada pada praktik perdukunan atau penggandaan uang.
“Dari sebanyak 10 kasus upal, 6 kasus dari praktik perdukunan,” imbuhnya.(Frans C Mokalu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s