KTR di Kota Cirebon Penuh Asap Rokok

Ilustrasi pemasangam stiker Dilarang Merokok di dalam Angkot.

Ilustrasi pemasangam stiker Dilarang Merokok di dalam Angkot.

(Suara Gratia)Cirebon – Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2015 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Kota Cirebon tidak berjalan efektif. Hingga kini, sepertinya Perda itu tidak pernah ada karena masih banyak orang yang bebas merokok di KTR seperti kantor-kantor pemerintah, fasilitas kesehatan, kawasan pendidikan, dan tempat bermain anak. Padahal sudah jelas, di titik-titik itu tertulis pengumuman dan imbauan “Dilaran Merokok”. Alhasil, orang yang tidak merokok/perokok pasif, anak-anak, wanita hamil, dan orang yang tengah menjalani perawatan kesehatan, tidak benar-benar bebas dari asap rokok.Kepala Bidang Penindakan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Cirebon Bintoro Tirto mengaku, sejak Perda KTR itu diberlakukan masih banyak orang yang merokok di kawasan bebas rokok bahkan sejumlah Event Organizer (EO) yang disponsori peodusen rokok mengadakan kegiatan di dekat sekolah dan rumah sakit.
“Reklame, iklan rokok masih banyak yang dipasang di dekat fasilitas pendidikan dan kesehatan,” katanya, Kamis 08/09/2016.
Bahkan, stiker kampanye bebas asap rokok yang ditempel di sekitar 1.500 angkutan kota (Angkot) pun dicopot.
“Stiker himbauan dilarang merokok di dalam angkot banyak yang dicopot,” imbuhnya.
Padahal dalam Perda Nomor 5 Tahun 2015 dengan jelas ditulis bahwa tidak boleh ada orang yang merokok, memasang iklan, memproduksi, dan menjual rokok di tempat pendidikan, taman bermain anak, fasilitas kesehatan, dan tempat ibadah.
“Minimal jaraknya 30 m dari KTR,” ujarnya.
Beberapa waktu mendatang, pihaknya akan memberikan sanksi tegas terhadap orang atau instansi yang melanggar Perda tersebut.
“Kedepan jika masih ada orang yang merokok di KTR kami akan tindak ditempat. Besaran dendanya sesuai dengan sanksi yang ada di dalam Perda,” katanya.
Selain itu, ia pun akan mengganti tulisan ‘Dilarang Merokok’ dengan ‘Terima Kasih Karena Tidak Merokok’.
“Karena kalau dilarang malah makin banyak orang yang merokok jadi, kita akan ganti tulisannya,” tuturnya.
Sementara, salah satu Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Pemkot Cirebon, Irianto mengaku, sulit menegur orang merokok di KTR dan tidak bisa berbuat banyak ketika yang merokok itu adalah seorang pimpinan.
“Kita setuju dengan penerapan Perda ini. Tapi bagaimana kita mau menegur, kalau yang merokok itu pimpinan kita atau kepala kantor kita misalnya. Malah nanti bisa ribut,” katanya.
Ia pun kerap melihat orang masih merokok di dalam ruangan berpendingin udara.
“Di beberapa rapat yang pernahbsaya ikuti, yang ruangannya ada ACnya orang masih saja merokok. Di lobi yang ber-AC juga orang masih merokok dengan bebas,” tandasnya.
Menurutnya, Perda itu akan sulit diterapkan karena di titik-titik KTR tidak disedialan fasilitas ruangan khusua untuk perokok.
“Di perkantoran, pusat perbelanjaan, rumah sakit, sekolah, dan lainnya belum ada fasilitas ruangan khusus bagi orang yang merokok,” tuturnya.(Frans C Mokalu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s