Pemkot Cirebon Kampanyekan Bahaya Merokok

Peserta sosialisasi bahaya merokok menjalani tes Carboxyhemoglobin (COHb) menggunakan smokerlizer.

Peserta sosialisasi bahaya merokok menjalani tes Carboxyhemoglobin (COHb) menggunakan smokerlizer.

(Suara Gratia)Cirebon – Pemerintah Kota Cirebon tengah gencar membangun kesadaran masyarakat mengenai bahaya merokok. Melalui Bagian Humas dan Protokol melakukan Kampanye Bahaya Merokok. Kegiatan kampanye bahaya merokok dilakukan di sejumlah tempat seperti sekolah, kantor pemerintahan dan tempat umum.
Menurut Kepala Bagian Humas dan Protokol Ma’ruf Nuryasa sekaligus Ketua Pelaksana Kampanye Bahaya Merokok Tahun 2016, kampanye ini untuk meningkatkan kesadaran bahaya asap rokok bagi kesehatan sehingga mereka tidak merokok di sembarang tempat yang dapat mengganggu orang yang tidak merokok.

“Tujuan dari kegiatan ini mengajak masyarakat Kota Cirebon untuk bisa hidup sehat dan menghormati orang yang tidak merokok,” katanya, Jumat 30/09/2016.
Hal ini, sekaligus juga mendukung diberlakukannya Peraturan Daerah nomor 8 tahun 2015 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR).
“Kita harus bangga bangga, Kota Cirebon telah memiliki Peraturan Daerah yang mengatur kawasan larangan merokok. Beberapa lokasi tersebut antara lain fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, angkutan umum, tempat ibadah dan tempat kerja,” terangnya.
Maruf menjelaskan, bagi para pelanggar Perda sanskinya adalah pidana kurungan paling lama 30 hari atau denda paling banyak Rp 10 juta tergantung jenis pelanggarannya.
Pihaknya menargetkan sebanyak 2 ribu orang mengetahui Perda Nomor 8 Tahun 2015 mengenai Kawasan Tanpa Rokok.
“Sosialisasi dilakukan di 20 titik lokasi yaitu 14 sekolah, lima kantor pemerintahan dan satu lokasi umum dengan target lebih dari 2.000 orang,” katanya.
Ia berharap, dengan mengetahui bahaya merokok masyarakat lebih memperhatikan kesehatan diri sendiri, keluarga, dan orang lain.
“Kami berharap setelah mengetahui bahaya merokok, untuk perokok aktif bisa mengurangi rokoknya. Selain itu, peserta sosialisasi juga bisa menjadi duta anti rokok di lingkungannya,” pungkasnya.
Lebih jauh ia menambahkan, usia sekolah merupakan zona rawan merokok karena di usia tersebut remaja sudah mulai mencoba hal-hal baru.
“Dari hasil pemetaan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan menyimpulkan bahwa, kebiasaan merokok sudah mulai dilakukan oleh anak-anak di tingkat SMA dan SMP,” ujarnya.(Frans C Mokalu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s