Larang Belajar dan Ibadah, Kuwu Desa Bobos Kabupaten Cirebon Dipolisikan Warganya

Pemilik Yayasan Al-Islam Maman Kardiman (berkemeja putih duduk sebelah kiri) dan kuasa hukumnya melaporkan Kuwu Desa Bobos ke Polisi.

Pemilik Yayasan Al-Islam Maman Kardiman (berkemeja putih duduk sebelah kiri) dan kuasa hukumnya melaporkan Kuwu Desa Bobos ke Polisi.

(Suara Gratia)Cirebon –  Pengurus Yayasan Al-Islam dan Warga Desa Bobos Kabupaten Cirebon laporkan Kuwunya ke polisi. Menyusul sikap Kuwu yang melarang warga Blok IV Desa setempat menuntut ilmu di Taman Pendidikan Al-quran (TPQ) milik Yayasan Al-Islam dan membubarkan sholat Idul Adha 1437 H, lalu.
Menurut kuasa hukum Pengurus Yayasan Al-Islam Nurdin SH, pihaknya dan warga melaporkan Kuwu Desa Bobos karena sikapnya yang meresahkan warga.
“Karena beliau telah memberikan instruksi kepada perangkat desa setempat melakukan ancaman kepada klien kami dan warga di blok IV desa setempat,” katanya, Rabu 05/10/2016.

Pemilik Yayasan Al-Islam, Maman Kardiman mengugkapkan, jika dirinya bersama warga di blok IV Desa Bobos telah diperlakukan tidak baik, bahkan ada ancaman hingga berbuntut penghentian proses belajar mengajar di TPQ yang ada di blok IV.
“Warga resah, karena sebagai kepala Desa harusnya dapat menjamin pendidikan. Tapi ini malah melarang dan mengancam,” ujarnya.
Sementara, Kuwu Desa Bobos Kabupaten Cirebon Tini Rustini, dengan tegas menyangkal tuduhan tersebut.
“Pembangunan TPQ dan TPA itu, bukan diberhentikan. Karena kondisi bangunanya memperihatinkan, oleh karena itu kami menyarankan pengurus Yayasan segera membuat proposal bantuan yang nanti akan menggunakan dana Anggaran Desa (ADD),” katanya.
Tini mengatakan, pihak Yayasan telah melanggar aturan, karena membangun TPQ dan TPA di atas tanah desa tanpa sepengetahuan desa atau ijin tertulis.
“Maka, hal itu sudah jelas dianggap penyerobotan tanah,” pungkasnya.
Mengenai pelarangan ibadah Sholat Idul Adha 1437, menurut Tini, sebenarnya memiliki tujuan yang baik yakni agar warga Desa Bobos bersama-sama beribadah di Masjid Desa, agar terjalin kebersamaan dan persaudaraan.
“Kami pemerintah Desa hanya menghimbau kepada masyarakat bukan melarang. Karena kami menyarankan untuk sholat berjamaah di masjid Desa,” ujarnya.
Pihaknya menegaskan, tidak ada pelarangan ibadah apalagi sampai mengancam warganya sendiri.
“Ini harus dipertegas, bukan memaksa warga untuk melaksanakan shalat Ied di masjid desa, apalagi sampai mengancam. Sekali lagi kami sampaikan, saya hanya menghimbau,” tukasnya.(Frans C Mokalu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s