BI Cirebon Gelar Festival UMKM

Seorang pengunjung mencoba kripik mangga di stand UMKM Desa Sidamukti Kabupaten Majalengka.

Seorang pengunjung mencoba kripik mangga di stand UMKM Desa Sidamukti Kabupaten Majalengka.

(Suara Gratia)Cirebon – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Cirebon menggelar ‘Cirebon Entrepreneur Festival 2016’ (CEF) di Gedung Wanita. Sebanyak 46 unit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) se-Wilayah III Cirebon (Kota/Kabupaten Cirebon, Majalengka, Indramayu, Kuningan) binaan BI dan Perbankan ditampilkan ke publik. Mulai dari produk makanan, minuman, bahan pangan mentah, batik, hingga kerajinan tangan khas/unggulan daerah maasing-masing ditampilkan berikut cara pengolahannya.
Menurut Kepala KPwBI Cirebon Abdul Majid Ikram, UMKM di Wilayah III Cirebon mengalami peningkatan, hal ini terlihat dari tingginya kredit yang dikucurkan dibandingkan tahun lalu.
“Kredit UMKM di Wilayah III Cirebon sampai triwulan III tahun 2016 mencapai Rp 11,6 triliun atau meningkat sebesar 13,24 persen disbanding periode yang sama pada tahun sebelumnya,” katanya, Jumat 11/11/2016.Ia mengatakan, UMKM memiliki peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan menyerap banyak tenaga kerja.
“Berdasarkan survey yang dilakukan Kementerian Koperasi dan UMKM di tahun 2014. Jumlah unit usaha UMKM mencapai 99 persen dari telah unit usaha dan menyerap sekitar 97 persen Sumber Daya Manusia dari total angkatan kerja, serta berkontibusi sebanyak 57,9 persen  terhadap Produk Domestik Bruto (PDB),” terangnya.
Ia menambahkan, selama tahun 2016 kurang lebih sebanyak 60 UMKM telah terbentuk dan dapat berjalan mandiri mulai dari proses produksi, pengolahan bahan mentah menjadi barang jadi, pemasaran, dan penjualan.
“Selama tahun 2016 kami memberikan pelatihan mulai dari pelatihan pengemasan, motivator wirausaha, membuat manajemen usaha, dan proses pruduksi hingga penjualan,” tuturnya.
Salah satu kordinator UMKM Desa Sidamukti Kabupaten Majalengka Apep Burhanudin mengatakan, sejak awal tahun 2016 warga di desanya telah dibina oleh BI Cirebon mengolah bahan makanan dari buah mangga.
“Desa kami terkenal sebagai daerah penghasil mangga Gedong Gincu dan Harum Manis. Selama 20 sampai 30 tahun terakhir, mangga hanya dijual dalam bentuk buah masak saja. Tapi kini, kami bisa membuat makanan ringan seperti, kripik, krupuk, coklat, nasi liwet, yang semuanya dari bahan mangga,” katanya.
Ia mengaku, puluhan ibu-ibu yang semula hanya menjadi ibu rumah tangga pergi ke kebun atau ke sawah menemani suaminya, kini memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap untuk kebutuhan sehari-hari.
“Di kami ada sekitar 10 ibu-ibu yang mengolah bahan makanan dari mangga. Mereka tadinya hanya dirumah dan menemani suaminya ke sawah. Bahkan, yang mengupas dan memotong mangga juga ada yang sudah nenek-nenek,” terangnya.
Kini produk olahan mangganya dapat menembus pasar diluar Majalengka seperti Cirebon, Tegal Jawa Tengah, Jakarta, dan Bandung.
“Omzetnya pelan-pelan naik, karena dari Bandung dan Jakarta banyak yang minta untuk ngisi di supermarket,” tuturnya.(Frans C Mokalu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s