Tahun 2017 SMA di Jabar Berbasis Ramah Anak

Ketua P2TP2A Netty Heryawan.

Ketua P2TP2A Netty Heryawan.

(Suara Gratia)Cirebon – Provinsi Jawa Barat kian intens memerangi kasus kekerasan terhadap anak. Komitmen ini dilakukan karena kasus kekerasan yang menimpa generasi emas kian tinggi. Sektor pendidikan adalah basis pertahanan terpenting untuk meminimalisir kasus tersebut.
Untuk itu, Provinsi Jabar melalui Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) akan mewujudkan sekolah berbasis ramah anak di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). 

Ketua P2TP2A Provinsi Jabar, Netty Heryawan mengungkapkan, rencananya sekolah ramah anak berbasis bebas kekerasan akan dilaksanakan di seluruh Jabar pada tahun 2017 mendatang. “Tahun depan kita akan mencipatakan sekolah berbasis ramah anak,” katanya, saat Diseminasi Informasi melalui video conference melindungi anak dari tayangan kekerasan di media center Gedung Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan (BKPP) Wilayah Cirebon, Senin (21/11/2016). Nantinya, setiap Senin saat upacara bendera, siswa akan diarahkan untuk membacakan deklarasi mengenai perlindungan teradap kekerasan.
“Ikrar tersebut tentang melindungi diri sendiri dari kekerasan, menghindarkan diri dari ancaman kekerasan, dan menolong orang yang mengalami kekerasan,” katanya.
Untuk menjamin keamanan anak dari tindak kekerasan, setiap sekolah juga akan diwajibkan memasang papan informasi berisi nomor pengaduan bila mengalami atau menemukan tindakan kekerasan.
“Nomor pengaduan itu bisa menggunakan nomor kepala sekolah, nomor pengaduan khusus, juga lembaga layanan di luar sekolah, yang tercantum di plang. Cantumkan nomor kepala sekolah dan lembaga layanan seperti P2TP2A,” ujarnya.
Netty menjelaskan, pada semester awal 2016, P2TP2A Jabar menerima 76 aduan kekerasan seksual yang dialami anak-anak.
“Jumlah tersebut bisa saja bertambah karena setiap daerah juga melakukan pendampingan terhadap kasus yang serupa,” imbuhnya.
Sementara, Women Crisis Centre (WCC) Balqis Cirebon, sebagai lembaga swadaya masyarakat pendampingan perempuan dan anak, mengungkapkan, hingga Oktober 2016 di wilayah Cirebon sedikitnya terdapat 80 kasus kekerasan seksual terhadap anak. Kasus-kasus kekerasan itu meliputi di Kabupaten Cirebon, Indramayu, dan Kuningan.
“Pada tahun 2015 lalu, terdapat 122 kasus kekerasan. Sekitar 75% kasus kekerasan seksual itu menimpa anak-anak,” kata koordinator, advokasi, dan penanganan kasus pada WCC Balqis, Lutfiyah Handayani.
Menurutnya, para pelaku sendiri didominasi oleh orang-orang terdekat korban, mulai dari tetangga, guru, teman dekat, hingga keluarga.
“Kasus ini kemungkinan bisa lebih besar, karena kebanyakan keluarga korban enggan melapor,” ujarnya.(Frans C Mokalu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s