Lembaga Dakwah PBNU : Hentikan Caci-Maki dan Hinaan Terhadap Tokoh Bangsa dan Ulama

Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Maman Imanulhaq.

Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Maman Imanulhaq.

(Suara Gratia)Cirebon – Rencana aksi demonstrasi lanjutan pada 2 Desember 2016 mendatang, menuai pro kontra di kalangan ulama. Cacian, makian, hingga ancamam di dunia maya semakin hari semakin memanas, karena perbedaan pendapat dilontarkan oleh berbagai pihak.
Kasus penistaan agama yang sedang ramai di tanah air membawa para tokoh bangsa ikut turut andil memberikan sikap dan pernyataan. Salah satunya adalah, Buya Syafii Ma’arif secara tegas menyatakan bahwa apa yang disampaikan oleh Ahok di Kepulauan Seribu sama sekali tidak ada unsur penistaan agama. Dan pernyataan Gus Mus yang menyatakan bahwa melaksanakan sholat Jum’at di jalan raya adalah bid’ah besar. Hal ini sontak menuai kritik berbagai pihak karena berbeda dengan pendapat masyarakat pada umumnya.
“Dampaknya kita dipertontonkan dengan kasat mata bertebarannya cacian, hujatan, pem-bully-an bahkan ancaman terhadap beberapa tokoh bangsa. Dunia maya semakin gaduh dengan adanya sikap-sikap tak terpuji dan ujaran kebencian dari para pendukung ditangkapnya Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Ahok),” kata KH Maman Imanulhaq, Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Kamis 24/11/2016.
Kiai Maman sangat menyayangkan tindakan-tindakan yang dilakukan masyarakat pengguna sosial media yang tidak bijak dan dewasa dalam memanfaatkan media sosial. Pernyatan tokoh bangsa dan ulama kharismatik yang menyejukkan yang bersandar pada nilai-nilai agama, malah dicaci-maki.
“Nasehat-nasehat menyejukkan dan teduh dari Buya Syafii Ma’arif dan KH A Mustofa Bisri alias Gus Mus ini justru berbuah hinaan, cacian, hujatan hingga ancaman. Padahal beliau menyampaikan pesan dan nilai-nilai yang sebenarnya merupakan substansi dan intisari dari ajaran agama, bukan bermaksud membela Ahok,” imbuhnya.
Kiai Maman pun meminta pelaku tindakan tidak terpuji di media sosial ditelusuri dan ditindak tegas. Karena, menurutnya, hal ini termasuk pelanggaran berat dan merupakan penistaan terhadap ulama dan tokoh bangsa.
“Selain ulama besar, beliau-beliau ini adalah tokoh bangsa yang mestinya harus dihormati. Siapapun yang sudah menghina dan mencaci maki ulama dan tokoh bangsa harus dihentikan dan diusut tuntas,” katanya.
Ia mengimbau kepada masyarakat agar segera menghentikan tindakan yang berupa caci maki dan hinaan terhadap para tokoh bangsa.
“Sungguh sangat memilukan para tokoh bangsa kita, yang keilmuannya jauh dengan kita bisa dengan mudahnya dihina dan dicaci maki seenaknya oleh masyarakat di sosial media karena berbeda pendapat,” ujarnya.
Menurutnya sosial media harus disikapi secara arif dan bijaksana agar keberadaanya benar-benar dijadikan sebagai media informasi dan komunikasi yang efektif serta bermanfaat untuk kemaslahatan manusia (al maslahatul ‘ammah).
“Akhir-akhir ini social media banyak disalahgunakan untuk membully, menghujat, menghina, mencaci dan menebar berbagai bentuk ujaran kebencian yang sudah melampaui batas, ini sudah harus segera dihentikan,” tegas Maman.(Frans C Mokalu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s