BI : Ekonomi Domestik 2017 Kembali Melangkah Maju

Kepala KPwBI Cirebon Abdul Majid Ikram (tengah) dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2016.
Kepala KPwBI Cirebon Abdul Majid Ikram (tengah) dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2016.

(Suara Gratia)Cirebon – Kondisi perekonomian global sangat berpengaruh bagi perekonomian dalam negeri. Perbaikan ekonomi global yang diharapkan mulai terjadi pada tahun 2016 ini, ternyata masih belum terlihat adanya perbaikan. Karena pertumbuhan ekonomi global tahun 2016 yang awalnya diperkirakan sebesar 3,0% yang terjadi malah lebih rendah dari capaian tahun 2015 yakni sebesar 3,2%. Sedangkan, Amerika Serikat sebagai negara maju yang sebelumnya diharapkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi global, dalam perkembangannya sampai semester 1-2016 masih belum solid. Pemulihan ekonomi di Jepang dan Eropa juga masih belum kuat. Tiongkok pun sebagai salah satu negara tujuan ekspor Indonesia, masih melakukan konsolidasi dan menyesuaikan sumber-sumber pertumbuhan ekonominya. Hal ini terungkap dalam diskusi tahunan “Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2016” yang digelar di Gedung Kantor Perwakilan bank Indonesia (KPwBI) Cirebon, Selasa 13/12/2016.

Menurut, Kepala KPwBI Cirebon Abdul Majid Ikram, pertumbuhan ekonomi global sampai dengan tahun 2020 mendatang diperkirakan masih dibawah 4%. Kondisi ini secara langsung berpengaruh terhadap perekonomian domestik.
“Sebagai suatu negara dengan perekonomian terbuka, perekonomian kita tidak terisolasi dari kondisi global yang belum kondusif tersebut. Namun, sejauh ini kami melihat ekonomi nasional masih cukup lentur menyesuaikan dan merspons berlanjutnya resiko ekonomi global,” katanya, Selasa 13/12/2016.
Ia melanjutkan, ekonomi Indonesia sampai dengan triwulan III-2016 masih bertumbuh 5,02% (yoy), meningkat dibandingkan dengan capaian tahun 2015. Sementara BI memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2016 akan berada di sekitar 5%.
“Angka tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan awal kami di penghujung tahun 2015 yaitu sebesar 5,2% – 5,6%. Namun, angka tersebut tetap mengesankan bila dibandingkan dengan capaian negara lain yang masih perlu berusaha keras mendorong pertumbuhan ekonominya,” imbuhnya.
Sementara, pada tahun 2017 mendatang pihaknya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,0% – 5,4%, dengan strktur perekonomian yang lebih banyak ditopang permintaan domestik. Sementara, inflasi akan berada dalam kisaran targetnya sebesar 4,0±1% di tahun 2017.
“Dengan prospek perekonomian tersebut, kami memperkirakan pertumbuhan kredit dan pembiayaan perbankan pada tahun 2017 berada dalam kisaran 10-12%, sementara untuk pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) dalam kisaran 9-11%. Di sisi lain, defisit transaksi berjalan diperkirakan sedikit meningkat sejalan dengan intensifnya proyek-proyek infrastruktur, namun tetap pada level yang sehat di bawah 3%,” katanya.
Lebih jauh ia menambahkan, dengan resiliensi yang lebih kuat perekonomian pada tahun 2017 akan menjadi titik balik pertumbuhan ekonomi yang lebih kokoh.
“Dengan landasan tersebut, kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada periode 2018 sampai 2021 akan berada dalam lintasan yang meningkat, hingga mencapai kisaran 5,9-6,3% pada 2021 dengan ditopang inflasi yang rendah. Sementara itu, defisit transaksi berjalan diharapkan akan berada pada lintasan yang menurun dan tetap berada pada level yang sehat yakni di bawah 3%,” tuturnya.(Frans C Mokalu)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s