Pelabuhan Cirebon Siap Bermitra dengan Pelaku Usaha

Aktifitas bongkar muat di Pelabuhan Cirebon.
Aktifitas bongkar muat di Pelabuhan Cirebon.

(Suara Gratia)Cirebon – Kapasitas Pelabuhan Cirebon dikeluhkan pelaku usaha, salah satunya adalah pengusaha mebel dan rotan. Pasalnya, Pelabuhan Cirebon belum memiliki prasarana yang memadai sehingga kegiatan ekspor, pengiriman barang dalam negeri baik barang jadi maupun bahan baku dilakukan di Pelabuhan Surabaya, Semarang, dan Tanjung Priok Jakarta. Padahal, biaya pengiriman barang yang keluar masuk Cirebon dari ketiga Pelabuhan itu jauh lebih mahal, mengingat jarak dan waktu yang tidak sedikit.Ketua Bidang Mebel Rotan dan Bambu Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Industri  Mebel dan Kerajinan Indonesia (DPP HIMKI) Soemartja berharap, ekspor rotan bisa melalui Pelabuhan Cirebon, karena selain bisa menghemat biaya transpor yang cukup signifikan, juga bakal menghemat waktu.
“Sampai saat ini kami belum bisa melakukan pengiriman barang melalui Pelabuhan Cirebon, karena, belum ada Shipping Company yang stay di sana, tidak ada pelayaran pulang pergi dari dan ke daerah tujuan, dan kapal yang bertolak dari Cirebon tidak ada komoditas yang bisa diangkut,” katanya, Rabu 14/12/2016.
Sejak regulasi kran ekspor bahan baku rotan dihentikan tahun 2011 lalu, secara pelan tapi pasti industri rotan mulai bangkit kembali.
“Begitu ekspor bahan baku dilarang, nilai ekspor produk rotan pelan-pelan kembali bangkit, dari yang semula 60 juta dolar AS per tahun, saat ini sudah mulai naik menjadi  170 juta dolar AS. Mudah-mudahan sampai akhir tahun 2016, nilai ekspor bisa mencapai  250 juta dolar AS,” terangnya.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Abdul Majid Ikram mempertanyakan hal serupa. Karena Ekspor rotan Cirebon saat ini sudah mencapai 4.000 TEUS per tahun,namun  tidak melalui Pelabuhan Cirebon.
“Kalau saja ekspor rotan bisa melalui Pelabuhan Cirebon, pertumbuhan ekonomi Kota Cirebon dan wilayah III Cirebon dipastikan bakal naik signifikan. Volume ekspor 4.000 TEUS untuk ukuran Pelabuhan Cirebon bukan potensi yang kecil. Sayang kalau tidak lewat Pelabuhan Cirebon,” katanya.
Sementara, Manajer Humas PT Pelindo II Cirebon Iman Wahyu menyatakan, Pelabuhan Cirebon siap menerima kedatangan maupun pengiriman komoditas apapun termasuk rotan dan mebel.
“Kalau kapal yang bermuatan 10 ribu ton itu bisa masuk ke Pelabuhan Cirebon dengan aman, bahkan kita pernah bongkar muatan berkapasitas 35 ribu ton dengan cara ship to ship, kalau angkutan rotan paling 2 ribu sampai 3 ribu ton. Artinya kami bisa untuk pengiriman barang baik dalam negeri maupun luar negeri, temasuk gudang untuk penyimpanan barang,” katanya.
Menurutnya, dari Pelabuhan ke tempat industri di Cirebon jaraknya hanya sekitar 10 km. Sehingga bisa dikalkulasikan biaya operasionalnya jika melakukan pengiriman barang dari Pelabuhan Surabaya, Semarang, dan Tanjung Priok.
“Bisa dibayangkan biaya yang dikeluarkan jika pengiriman barang dari Tanjung Priok atau Pelabuhan Semarang misalnya, menuju Cirebon, Majalengka, Kuningan dan sekitarnya,” terangnya.
Pihaknya tidak menampik jika di Pelabuhan Cirebon hingga kini belum ada Shipping Company, namun ia memastikan ada beberapa Shipping Company yang siap bekerjasama.
“Memang betul di Pelabuhan belum ada Shipping Company, karena belum pernah dicoba. Padahal, sudah ada 3 atau 4 perusahaan pelayaran yang sudah mau masuk ke Pelabuhan Cirebon. Hanya mereka belum bertemu dengan pemilik barang. Dan kami siap untuk memfasilitasi pertemuan antara teman-teman HIMKI dengan Shipping Company,” tuturnya.(Frans C Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s